Manakan dapat sagu kalau tidak dipecahkan ruyungnya?
Manakan dapat mutiara yang berkerlipan jika takut menyelam ke lautan dalam.
Dalam diri setiap manusia, ada seketul daging.
Jika baik ia, maka baiklah seluruh jiwa manusia itu.
Jika buruk ia, buruklah juga manusia itu...
Seketul daging itu adalah hati,
mari kita lapangkan dada dan belajar mengIKHLASkan hati.
Perjalanan seribu batu bermula dengan satu langkah.
Marilah meneroka dunia pemikiran hamba.
Silakan

Video klip yang tertera boleh dianggap sebagai pembukaan kepada dunia pemikiran dan kesukaan hamba...







-------------------------


-------------------------



Segala yang dipaparkan menggambarkan pemikiran penulis yang turut terserap di dalam setiap penulisan buku dan artikel. Lihat Cara-cara mendapatkan buku tulisan Merah Silu @ Radzi Sapiee. Di atas adalah satu klip video selama hampir setengah jam yang merupakan demo pilot episode yang mahu digunakan untuk mencadangkan satu siri pengembaraan menyusuri sejarah Melayu Islam sekeliling Nusantara untuk siaran televisyen. Entah mengapa ia menemui masalah. Kemudian penulis diberitahu konsepnya diciplak sebuah stesyen televisyen. Lihat Kembara Sejarah Islam Nusantara : The original material...



Ini adalah klip video ulasan buku ketujuh saya "Jejak keluarga Yakin : Satu sketsa sejarah" berserta temuramah yang dibuat siaran langsung di Selamat Pagi Malaysia, RTM1. Lihat Siaran langsung ulasan buku "Jejak keluarga Yakin : Satu sketsa sejarah" dan temu ramah di Selamat Pagi Malaysia.



Penulis juga pernah diminta membuat pembentangan mengenai siri buku "Berpetualang ke Aceh" di Masjid Sultan Salahuddin iaitu masjid negeri Selangor di Shah Alam. Lihat Buku "Berpetualang" dan himpunan ulamak Nusantara yang diketuai ulamak Aceh


-------------------------



Siri novel "Berpetualang ke Aceh" boleh didapati dalam bentuk e-book. Masuk http://www.e-sentral.com/, klik kategori novel am dan taip perkataan "Aceh" pada kotak carian. Atau terus klik Buku 1,Buku 2 dan Buku 3.





Gambar ketika menghadiri satu majlis ilmu, diambil oleh sebuah akhbar harian. Lihat Menghiasi Kosmo Alam Melayu...



Penerbitan trilogi novel "Berpetualang ke Aceh" juga membawa penulis untuk terlibat dengan banyak majlis ilmu. Rujuk kumpulan links artikel di bawah tajuk "Siri Refleksi Sejarah", pada bahagian paling bawah kiri blogspot, . Penulis juga agak aktif dalam aktiviti-aktiviti kedaulatan Melayu dan Islam, dapat menganjurkan majlis-majlis sendiri di merata Semenanjung Malaysia membawa ke luar negara di Aceh. Lihat blogspot Himpunan Kedaulatan Melayu Islam Akhir Zaman (HIKMAH).


Ketika menulis perenggan ini 4 Mei 2015 penulis sedang berusaha untuk mengembangkan isi 3 buku dalam siri "Berpetualang ke Aceh" menjadi 6 buku yang akan membentuk siri baru dipanggil "Siri Pengembaraan Merah Silu". Sebuah syarikat penerbitan telah bersetuju untuk menerbitkan siri lama itu kembali dalam bentuk yang lebih segar - Setiap buku asal dipecah menjadi 2 buku baru yang ditambah maklumat, gambar dan peta berwarna-warni.Pertengahan September 2015 buku pertama siri baru pun selamat diterbitkan. Seminggu lebih kemudian penulis berpeluang bercakap tentangnya secara siaran langsung dalam televisyen lalu membawa wakil penerbit bersama. Lihat video di bawah :-





Awal tahun 2015 turut menyaksikan penulis diambil menjadi penyelidik dan hos satu siri dokumentari yang dipanggil "Daulah Melayu". Projek 13 episod sepanjang sejam setiap satu ini mahu mengenengahkan formula untuk mengembalikan kekuatan bangsa Melayu. Insyaallah projek iakan membawa penulis untuk mengembara ke merata di Malaysia dan Indonesia juga ke beberapa negara dan tempat di Eropah termasuk ke kota London, tempat penulis mengambil ijazah matematik 1991-1995. Siri dokumentari ini dijangka siap untuk tayangan televisyen dalam tempoh 2 tahun.


Pada 13 Mei 2023 buku ke 13 + 1 penulis (pertama setelah yang ke-13 terbit tahun 2019 lalu mula memberikan tumpuan pada pengajian pascasiswazah di ISTAC iaitu Institut Antarabangsa Pemikiran dan Tamadun Islam di Bukit Tunku, Kuala Lumpur), Laksamana Raja Mahkota Muhammad Amin & Orang Kaya Arsyad telah dilancarkan oleh sejarawan ulung negara, Profesor Emeritus Datuk Dr Abdullah Zakaria Ghazali di rumah penulis. Lihat Majlis pelancaran buku dan rumah terbuka raya 2023 - Melestarikan semangat perjuangan. Beliau yang bertanggungjawab memberikan kata-kata aluan dalam buku turut menjadi pembicara dalam diskusi yang diadakan di Pesta Buku Antarabangsa Kuala Lumpur 2023 (berlangsung 26 Mei hingga 4 Jun). Lihat Bicara buku Laksamana Raja Mahkota Muhammad Amin di PBAKL 2023. Diskusi ini terakam dalam video atas diikuti video bawah...



Jumaat, Jun 19, 2015

Betul ke Wali Songo dihantar oleh Khalifah untuk berdakwah ke Pulau Jawa?



Salam Jumaat pertama bulan Ramadhan. Sebelum menyatakan apa yang sebenarnya mahu saya perkatakan terlebih dahulu biar dikongsikan artikel ini...


-------------------


WALI SONGO UTUSAN KHALIFAH

Bisa dikatakan tak akan ada Islam di Indonesia tanpa peran khilafah. Orang sering mengatakan bahwa Islam di Indonesia, khususnya di tanah Jawa disebarkan oleh Walisongo. Tapi tak banyak orang tahu, siapa sebenarnya Walisongo itu? Dari mana mereka berasal? Tidak mungkin to mereka tiba-tiba ada, seolah turun dari langit?

Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.

Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.

Lalu ada Syekh Ja’far Shadiq dan Syarif Hidayatullah yang di sini lebih dikenal dengan sebutan Sunan Kudus dan Sunan Gunung Jati. Keduanya juga berasal dari Palestina. Sunan Kudus mendirikan sebuah kota kecil di Jawa Tengah yang kemudian disebut Kudus – berasal dari kata al Quds (Jerusalem).

Dari para wali itulah kemudian Islam menyebar ke mana-mana hingga seperti yang kita lihat sekarang. Oleh karena itu, sungguh aneh kalau ada dari umat Islam sekarang yang menolak khilafah. Itu sama artinya ia menolak sejarahnya sendiri, padahal nenek moyangnya mengenal Islam tak lain dari para ulama yang diutus oleh para khalifah.

Islam masuk ke Indonesia pada abad 7M (abad 1H), jauh sebelum penjajah datang. Islam terus berkembang dan mempengaruhi situasi politik ketika itu. Berdirilah kesultanan-kesultanan Islam seperti di Sumatera setidaknya diwakili oleh institusi kesultanan Peureulak (didirikan pada 1 Muharram 225H atau 12 November tahun 839M), Samudera Pasai, Aceh Darussalam, Palembang; Ternate, Tidore dan Bacan di Maluku (Islam masuk ke kerajaan di kepulauan Maluku ini tahun 1440); Kesultanan Sambas, Pontianak, Banjar, Pasir, Bulungan, Tanjungpura, Mempawah, Sintang dan Kutai di Kalimantan.

Adapun kesultanan di Jawa antara lain: kesultanan Demak, Pajang, Cirebon dan Banten. Di Sulawesi, Islam diterapkan dalam institusi kerajaan Gowa dan Tallo, Bone, Wajo, Soppeng dan Luwu. Sementara di Nusa Tenggara penerapan Islam di sana dilaksanakan dalam institusi kesultanan Bima. Setelah Islam berkembang dan menjelma menjadi sebuah institusi maka hukum-hukum Islam diterapkan secara menyeluruh dan sistemik dalam kesultanan-kesultanan tersebut.

PERIODE DAKWAH WALI SONGO

Kita sudah mengetahui bahwa mereka adalah Maulana Malik Ibrahim ahli tata pemerintahan negara dari Turki, Maulana Ishaq dari Samarqand yang dikenal dengan nama Syekh Awwalul Islam, Maulana Ahmad Jumadil Kubra dari Mesir, Maulana Muhammad al-Maghrabi dari Maroko, Maulana Malik Israil dari Turki, Maulana Hasanuddin dari Palestina, Maulana Aliyuddin dari Palestina, dan Syekh Subakir dari Persia. Sebelum ke tanah Jawa, umumnya mereka singgah dulu di Pasai. Adalah Sultan Zainal Abidin Bahiyan Syah penguasa Samudra Pasai antara tahun 1349-1406 M yang mengantar Maulana Malik Ibrahim dan Maulana Ishaq ke Tanah Jawa.

Pada periode berikutnya, antara tahun 1421-1436 M datang tiga da’i ulama ke Jawa menggantikan da’i yang wafat. Mereka adalah Sayyid Ali Rahmatullah putra Syaikh Ibrahim dari Samarkand (yang dikenal dengan Ibrahim Asmarakandi) dari ibu Putri Raja Campa-Kamboja (Sunan Ampel), Sayyid Ja’far Shadiq dari Palestina (Sunan Kudus), dan Syarif Hidayatullah dari Palestina cucu Raja Siliwangi Pajajaran (Sunan Gunung Jati).

Mulai tahun 1463M makin banyak da’i ulama keturunan Jawa yang menggantikan da’i yang wafat atau pindah tugas. Mereka adalah Raden Paku (Sunan Giri) putra Maulana Ishaq dengan Dewi Sekardadu, putri Prabu Menak Sembuyu, Raja Blambangan; Raden Said (Sunan Kalijaga) putra Adipati Wilatikta Bupati Tuban; Raden Makdum Ibrahim (Sunan Bonang); dan Raden Qasim Dua (Sunan Drajad) putra Sunan Ampel dengan Dewi Condrowati, putri Prabu Kertabumi Raja Majapahit.

Banyaknya gelar Raden yang berasal dari kata Rahadian yang berarti Tuanku di kalangan para wali, menunjukkan bahwa dakwah Islam sudah terbina dengan subur di kalangan elit penguasa Kerajaan Majapahit. Sehingga terbentuknya sebuah kesultanan tinggal tunggu waktu.

Hubungan tersebut juga nampak antara Aceh dengan Khilafah Utsmaniyah. Bernard Lewis menyebutkan bahwa pada tahun 1563M, penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istambul untuk meminta bantuan melawan Portugis sambil meyakinkan bahwa sejumlah raja di kawasan tersebut telah bersedia masuk agama Islam jika kekhalifahan Utsmaniyah mau menolong mereka.

Saat itu kekhalifahan Utsmaniyah sedang disibukkan dengan berbagai masalah yang mendesak, yaitu pengepungan Malta dan Szigetvar di Hungaria, dan kematian Sultan Sulaiman Agung. Setelah tertunda selama dua bulan, mereka akhirnya membentuk sebuah armada yang terdiri dari 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya yang mengangkut persenjataan dan persediaan untuk membantu masyarakat Aceh yang terkepung.

Namun, sebagian besar kapal tersebut tidak pernah tiba di Aceh. Banyak dari kapal-kapal tersebut dialihkan untuk tugas yang lebih mendesak yaitu memulihkan dan memperluas kekuasaan Utsmaniyah di Yaman. Ada satu atau dua kapal yang tiba di Aceh. Kapal-kapal tersebut selain membawa pembuat senjata, penembak, dan teknisi juga membawa senjata dan peralatan perang lainnya, yang langsung digunakan oleh penguasa setempat untuk mengusir Portugis. Peristiwa ini dapat diketahui dalam berbagai arsip dokumen negara Turki.

Hubungan ini nampak pula dalam penganugerahan gelar-gelar kehormatan diantaranya Abdul Qadir dari Kesultanan Banten misalnya, tahun 1048 H (1638 M) dianugerahi gelar Sultan Abulmafakir Mahmud Abdul Kadir oleh Syarif Zaid, Syarif Mekkah saat itu. Demikian pula Pangeran Rangsang dari Kesultanan Mataram memperoleh gelar Sultan dari Syarif Mekah tahun 1051 H (1641 M ) dengan gelar Sultan Abdullah Muhammad Maulana Matarami. Pada tahun 1638 M, sultan Abdul Kadir Banten berhasil mengirim utusan membawa misi menghadap syarif Zaid di Mekah.

Hasil misi ke Mekah ini sangat sukses, sehingga dapat dikatakan kesultanan Banten sejak awal memang meganggap dirinya sebagai kerajaan Islam, dan tentunya termasuk Dar al-Islam yang ada di bawah kepemimpinan Khalifah Turki Utsmani di Istanbul. Sultan Ageng Tirtayasa mendapat gelar sultan dari Syarif mekah.

Hubungan erat ini nampak juga dalam bantuan militer yang diberikan oleh Khilafah Islamiyah. Dalam Bustanus Salatin karangan Nuruddin ar-Raniri disebutkan bahwa kesultanan Aceh telah menerima bantuan militer berupa senjata disertai instruktur yang mengajari cara pemakaiannya dari Khilafah Turki Utsmani (1300-1922).

Bernard Lewis (2004) menyebutkan bahwa pada tahun 1563 penguasa Muslim di Aceh mengirim seorang utusan ke Istanbul untuk meminta bantuan melawan Portugis. Dikirimlah 19 kapal perang dan sejumlah kapal lainnya pengangkut persenjataan dan persediaan; sekalipun hanya satu atau dua kapal yang tiba di Aceh.

Tahun 1652 kesultanan Aceh mengirim utusan ke Khilafah Turki Utsmani untuk meminta bantuan meriam. Khilafah Turki Utsmani mengirim 500 orang pasukan orang Turki beserta sejumlah besar alat tembak (meriam) dan amunisi. Tahun 1567, Sultan Salim II mengirim sebuah armada ke Sumatera, meski armada itu lalu dialihkan ke Yaman. Bahkan Snouck Hourgroye menyatakan, “Di Kota Makkah inilah terletak jantung kehidupan agama kepulauan Nusantara, yang setiap detik selalu memompakan darah segar ke seluruh penduduk Muslimin di Indonesia.” Bahkan pada akhir abad 20, Konsul Turki di Batavia membagi-bagikan al-Quran atas nama Sultan Turki.

Di istambul juga dicetak tafsir al-Quran berbahasa melayu karangan Abdur Rauf Sinkili yang pada halaman depannya tertera “dicetak oleh Sultan Turki, raja seluruh orang Islam”. Sultan Turki juga memberikan beasiswa kepada empat orang anak keturunan Arab di Batavia untuk bersekolah di Turki.

Pada masa itu, yang disebut-sebut Sultan Turki tidak lain adalah Khalifah, pemimpin Khilafah Utsmaniyah yang berpusat di Turki. Selain itu, Snouck Hurgrounye sebagaimana dikutip oleh Deliar Noer mengungkapkan bahwa rakyat kebanyakan pada umumnya di Indonesia, terutama mereka yang tinggal di pelosok-pelosok yang jauh di penjuru tanah air, melihat stambol (Istambul, kedudukan Khalifah Usmaniyah) masih senantiasa sebagai kedudukan seorang raja semua orang mukmin yang kekuasaannya mungkin agaknya untuk sementara berkurang oleh adanya kekuasaan orang-orang kafir, tetapi masih dan tetap [dipandang] sebagai raja dari segala raja di dunia. Mereka juga berpikir bahwa “sultan-sultan yang belum beragama mesti tunduk dan memberikan penghormatannya kepada khalifah.” Demikianlah, dapat dikatakan bahwa Islam berkembang di Indonesia dengan adanya hubungan dengan Khilafah Turki Utsmani.

Dengan demikian, keterkaitan Nusantara sebagai bagian dari Khilafah, baik saat Khilafah Abbasiyah Mesir dan Khilafah Utsmaniyah telah nampak jelas pada pengangkatan Meurah Silu menjadi Sultan Malikussaleh di Kesultanan Samudra-Pasai Darussalam oleh Utusan Syarif Mekkah, dan pengangkatan Sultan Abdul Kadir dari Kesultanan Banten dan Sultan Agung dari Kesultanan Mataram oleh Syarif Mekkah.

Dengan mengacu pada format sistem kehilafahan saat itu, Syarif Mekkah adalah Gubernur (wali) pada masa Khilafah Abbasiyah dan Khilafah Utsmaniyah untuk kawasan Hijaz. Jadi, wali yang berkedudukan di Mekkah bukan semata penganugerahan gelar melainkan pengukuhannya sebagai sultan. Sebab, sultan artinya penguasa. Karenanya, penganugerahan gelar sultan oleh wali lebih merupakan pengukuhan sebagai penguasa Islam. Sementara itu, kelihatan Aceh memiliki hubungan langsung dengan pusat khilafah Utsmaniyah di Turki.

KESIMPULAN

Jumlah dai yang diutus ini tidak hanya sembilan (Songo). Bahkan ada 6 angkatan yang dikirimkan, masing-masing jumlanya sekitar sembilan orang. (Versi lain mengatakan 7 bahkan 10 angkatan karena dilanjutkan oleh anak / keturunannya)

Para Wali ini datang dimulai dari Maulana Malik Ibrahim, asli Turki. Beliau ini ahli politik & irigasi, wafat di Gresik.

- Maulana Malik Ibrahim ini menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara.

- Seangkatan dengan beliau ada 2 wali dari Palestina yg berdakwah di Banten; salah satunya Maulana Hasanudin, beliau kakek Sultan Ageng Tirtayasa.

- Juga Sultan Aliyudin, beliau dari Palestina dan tinggal di Banten. Jadi masyarakat Banten punya hubungan darah & ideologi dg Palestina.

- Juga Syaikh Ja'far Shadiq & Syarif Hidayatullah; dikenal disini sebagai Sunan Kudus & Sunan Gunung Jati; mereka berdua dari Palestina.

- Maka jangan heran, Sunan Kudus mendirikan Kota dengan nama Kudus, mengambil nama Al-Quds (Jerusalem) & Masjid al-Aqsha di dalamnya.

(Sumber Muhammad Jazir, seorang budayawan & sejarawan Jawa , Pak Muhammad Jazir ini juga penasehat Sultan Hamengkubuwono X).

Adapun menurut Berita yang tertulis di dalam kitab Kanzul ‘Hum karya Ibnul Bathuthah, yang kemudiah dilanjutkan oleh Syekh Maulana Al Maghribi.

Sultan Muhammad I itu membentuk tim beranggotakan 9 orang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa dimulai pada tahun 1404. Tim tersebut diketuai oleh Maulana Malik Ibrahim yang merupakan ahli mengatur negara dari Turki.

Wali Songo Angkatan Ke-1, tahun 1404 M/808 H. Terdiri dari:

1. Maulana Malik Ibrahim, berasal dari Turki, ahli mengatur negara. 
2. Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan. 
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir. 
4. Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko. 
5. Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara. 
6. Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan. 
7. Maulana Hasanudin, dari Palestina. 
8. Maulana Aliyudin, dari Palestina. 
9. Syekh Subakir, dari Iran, Ahli ruqyah.

Wali Songo Angkatan ke-2, tahun 1436 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan 
2. Maulana Ishaq, asal Samarqand, Rusia Selatan 
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir 
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko 
5. Sunan Kudus, asal Palestina 
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina 
7. Maulana Hasanuddin, asal Palestina 
8. Maulana 'Aliyuddin, asal Palestina 
9. Syekh Subakir, asal Persia Iran.

Wali Songo Angkatan ke-3, 1463 M, terdiri dari:

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan 
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim 
3. Maulana Ahmad Jumadil Kubro, asal Mesir 
4. Maulana Muhammad Al-Maghrabi, asal Maroko 
5. Sunan Kudus, asal Palestina 
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina 
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim 
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim 
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-4,1473 M, terdiri dari :

1. Sunan Ampel, asal Champa, Muangthai Selatan 
2. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim 
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak 
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon 
5. Sunan Kudus, asal Palestina 
6. Sunan Gunung Jati, asal Palestina 
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim 
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim 
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-5,1478 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim 
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah 
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak 
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon 
5. Sunan Kudus, asal Palestina 
6. Syaikh Siti Jenar, asal Persia, Iran 
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim 
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim 
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim

Wali Songo Angkatan ke-6,1479 M, terdiri dari :

1. Sunan Giri, asal Belambangan,Banyuwangi, Jatim 
2. Sunan Muria, asal Gunung Muria, Jawa Tengah 
3. Raden Fattah, asal Majapahit, Raja Demak 
4. Fathullah Khan (Falatehan), asal Cirebon 
5. Sunan Kudus, asal Palestina 
6. Sunan Tembayat, asal Pandanarang 
7. Sunan Bonang, asal Surabaya, Jatim 
8. Sunan Derajat, asal Surabaya, Jatim 
9. Sunan Kalijaga, asal Tuban, Jatim



 ------------------------

OK. Dah baca sampai habis dan fahamkan/hadamkan? Sekarang baru boleh diyatakan apa yang sebenarnya ingin saya perkatakan...



Merujuk pada perenggan kedua tulisan atas yang berbunyi begini :-


Dalam kitab Kanzul ‘Hum yang ditulis oleh Ibn Bathuthah yang kini tersimpan di Museum Istana Turki di Istanbul, disebutkan bahwa Walisongo dikirim oleh Sultan Muhammad I. Awalnya, ia pada tahun 1404 M (808 H) mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah yang isinya meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan di berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa.


Biar disenaraikan beberapa perkara yang boleh dipersoalkan...

1. Kitab Kanzul 'Hum yang dikatakan ditulis oleh Ibn Bathuthah. Setakat dapat saya cari melalui Internet tidak terjumpa apa-apa rujukan tentang kitab bertajuk itu ditulis oleh Ibnu Bathuthah kecuali pada cerita-cerita serupa tulisan atas yang rata-rata bersumber daripada Pulau Jawa.

2. Kitab ditulis Ibnu Bathuthah menyebut WaliSongo dikirim oleh Sultan Muhammad I? Bagaimana ini boleh berlaku sedangkan setahu saya Ibnu Bathuthah hidup tahun  1304 hingga 1368 atau 1369 Masihi. Sultan Muhammad I atau lebih dikenali sebagai Mehmed I pula memerintah kerajaan Uthmaniyah di Turki 1413-1421.

Dalam daftar senarai pemerintahan kerajaan Uthmaniyah, raja yang bertakhta sebelum itu adalah Sultan Bayazid (1389-1402). Tahun 1402-1413 dinyatakan sebagai zaman peralihan Uthmaniyah lalu tidak disebut siapa yang memerintah. Apa yang berlaku adalah pasukan Sultan Bayazid dikalahkan oleh pasukan Monggol pimpinan Timur atau Tamerlane, seorang keturunan Genghiz Khan dalam Perang Ankara 1402 lalu sultan ditawan. Ini membawa kepada perang saudara merebut kekuasaan ke atas takhta Uthmaniyah. Perang berlanjuntan sehinggalah Mehmed yang merupakan anakanda Bayazid menang lalu dapat menjadi sultan seterusnya tahun 1413.

Maka itu dakwaan bahawa Walisongo dikirim ke Pulau Jawa sebagai susulan Sultan Muhammad atau Mehmed mengirim surat  kepada para pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah tahun 1404 adalah salah kerana baginda belum menjadi sultan ketika itu dan Uthmaniyah sedang kacau. Dicampur kenyataan bahawa Ibnu Bathuthah cuma hidup sehingga tahun 1368 atau 1369 mana mungkin beliau menulis kitab menyebut Sultan Muhammad menulis surat tahun 1404 apalagi menghantar Walisongo kemudian ke Pulau Jawa.



Seterusnya biar dirujuk pada perenggan ketiga tulisan yang diberi tajuk "Wali Songo Utusan Khalifah" itu. Ia adalah susulan terus daripada isi perenggan kedua yang menyatakan Wali Songo dihantar selepas Sultan Muhammad I mengirim surat ke Afrika Utara dan Timur Tengah, satu perkara yang saya ditunjukkan di atas tidak bertepatan dengan fakta sejarah perkembangan kerajaan Uthmaniyah. 


Jadi, Walisongo sesungguhnya adalah para dai atau ulama yang diutus khalifah di masa Kekhilafahan Utsmani untuk menyebarkan Islam di Nusantara. Dan jumlahnya ternyata tidak hanya sembilan (Songo). Ada 6 angkatan yang masing-masing jumlahnya sekitar sembilan orang. Memang awalnya dimulai oleh angkatan I yang dipimpin oleh Syekh Maulana Malik Ibrahim, asal Turki, pada tahun 1400 an. Ia yang ahli politik dan irigasi itu menjadi peletak dasar pendirian kesultanan di Jawa sekaligus mengembangkan pertanian di Nusantara. Seangkatan dengannya, ada dua wali dari Palestina yang berdakwah di Banten. Yaitu Maulana Hasanudin, kakek Sultan Ageng Tirtayasa, dan Sultan Aliudin. Jadi, masyarakat Banten sesungguhnya punya hubungan biologis dan ideologis dengan Palestina.


Maka disebabkan Sultan Muhammad kononnya menghantar Wali Songo ke Pulau Jawa maka para pendakwah itu dikatakan diutus khalifah. Ini adalah satu lagi kenyataan yang tidak tepat malah sangat menyalahi sejarah.

Kenyataannya :- 

1. Kerajaan Uthmaniyah cuma diiktiraf sebagai khalifah umat Islam pada tahun 1512. Ini berlaku selepas ia berkembang cukup pesat dan wilayah taklukannya cukup luas untuk memasukkan Mekah dan Madinah di bawahnya lalu mendapatkan pengiktirafan sebagai Khadamul Haramain (penjaga Tanah Haram merujuk pada wilayah tersebut) oleh para Syarif Mekah (raja) yang memerintah Hijjaz, wilayah yang mengandungi kedua-dua Tanah Haram itu. Ini pula boleh berlaku setelah Uthmaniyah mengalahkan kerajaan Islam sebelumnya yang memegang gelaran Khadamul Haramain. Ini adalah kerajaan Mamluk di Mesir, kerajaan Islam terkuat di dunia buat beberapa lama setelah Kekhalifahan Abbasiyah yang berpusat di Baghdad jatuh ke tangan tentera Monggol tahun 1258 M.

Kerajaan Mamluk di Mesir turut menjadi tempat perlindungan keturunan khalifah Abbasiyah selepas kejatuhan Baghdad. Dikatakan sejumlah barangan kebesaran kekhalifahan yang merupakan barangan warisan daripada Nabi Muhammad SAW dibawa sekali ke Mesir iaitu ke Kaherah. Barangan ini menandakan kekuasaan kekhalifahan lalu ia masih di bawah pegangan Bani Abbasiyah tetapi di bawah perlindungan Mamluk. Apabila Uthmaniyah mengalahkan Mamluk 1512 lalu membawa barangan ini ke Turki baru ia secara rasminya memegang tampuk kepimpinan umat Islam sedunia.

2. Ada pihak cuba menyebut raja-raja Uthmaniyah sebelum itu sebagai khalifah malah pengasas Dinasti Uthmaniyah iaitu Othman Ghazi yang dikatakan memerintah 1281-1326 pun disenaraikan sebagai khalifah. Ini adalah salah. Othman Ghazi bermula sebagai salah seorang raja kecil daerah-daerah yang terpecah setelah kemeresotan pemerintahan Bani Seljuq di wilayah Anatolia (bersamaan wilayah Turki sekarang). Wilayah yang diperintahnya sehingga tamat riwayat 1326 adalah lebih kurang sebesar negeri Johor sekarang. Tidak mungkin baginda menjadi khalifah yang selalunya merujuk kepada pemimpin seluruh umat Islam, kalau khalifah untuk negerinya sahaja bolehlah.



Di atas adalah gambar peta perkembangan wilayah kekuasaan Turki Uthmaniyah yang dihadiahkan kepada saya oleh seorang kawan sekitar 10 tahun lalu. Peta dibeli di Turki dan gambar ada kongsikan dalam artikel Kekhalifahan raja-raja Melayu dan dinar emas Melaka yang hilang yang dibuat 7 bulan lalu. Melalui peta ini juga bacaan sokongan yang boleh ditemui melalui Google saya melihat Uthmaniyah boleh dikatakan mula menjadi bahan bualan umat Islam di tempat-tempat lain pada zaman pemerintahan cucu Othman iaitu Sultan Murad sekitar 1360-1389. Ini kerana ketika itu baginda sudah berjaya meluaskan kekuasaan Uthmaniyah sehingga dapat melingkungi kota Konstantinople, pusat empayar Kristian Byzantium atau Rom Timur.

Hal ini wajar menjadi perhatian umat Islam kerana Nabi Muhammad SAW sendiri pernah menyatakan Konstatinople akan ditakluk oleh sebaik-baik tentera dan raja Islam. Maka sudah ramai pemimpin Islam cuba menakluki tetapi pada zaman pemerintahan Sultan Muhammad atau Mehmed II, raja yang juga dikenali sebagai Muhammad Al-Fatih baru ia terlaksana tahun 1453. Ketika itu pun Uthmaniyah belum dianggap sebagai khalifah umat Islam walaupun ramai telah meletakkan harapan terhadapnya lantaran kemenangan yang menyebabkan kota Konstatinole diberi nama baru Istanbul. Jadi untuk mengatakan Wali Songo dikirim oleh khalifah di Turki sejak setengah abad sebelum itu memanglah salah.

Apapun Sultan Murad yang memerintah 1360-1389 adalah sultan yang zamannya paling selari dengan tempoh kehidupan Ibnu Bathuthah 1304-1368 atau 1369.  Apabila baginda dapat meluaskan wilayah Uthmaniah sehingga melingkungi Konstantinople tentu ramai umat Islam mendapat berita tentangnya terutama apabila jemaah haji bertemu di Mekah. Mengikut anggaran saya berdasarkan apa yang tertera pada peta, wilayah yang dapat dikuasai baginda ketika itu tidaklah sebesar mana lagi, sekadar sekitar 115,000 km persegi, besar negeri Sarawak pun tak sampai.  Tetapi disebabkan ia adalah kali pertama sebuah kerajaan Islam dapat melingkungi Konstantinople lalu ada bunga-bunga dapat memenuhi ramalan dalam hadis Nabi ia patut mendapat perhatian ramai.


Pun begitu, setakat saya tahu pencapaian ini tidak tercatat dalam kitab Rihla  yang merupakan catatan pengembaraan Ibnu Bathuthah (juga dieja Battuta) ke merata dunia Islam zaman itu. Saya belum pernah berkesempatan untuk membaca sepenuhnya kitab Rihla tetapi melalui ringkasan perjalanan yang ditemui di Internet saya dapat menelusuri fakta-fakta berikut :-


1. Ibn Battuta dilahirkan di Tangier, Maghribi Afrika Utara tahun 1304. Ketika berumur 21 tahun beliau membuat perjalanan merentasi benua untuk mengerjakan haji di Mekah lalu duduk beberapa lama di sana. Selepas itu beliau mengembara selama hampir 3 dekad..

2. Pada samada 1330 atau 1332 Ibnu Batutta sampai di Anatolia, dikatakan sedang berada di bawah kerajaan Seljuk. Nampaknya beliau terlepas pandang kerajaan Uthmaniyah yang ketika itu terletak di dalam wilayah Anatolia juga. Mungkin kerana wilayah kerajaan itu masih dalam proses untuk membesar daripada saiz seperti negeri Johor menjadi saiz separuh Semenanjung Malaysia (berdasarkan saiz wilayah yang dapat dikuasai pemerintah kedua Uthmaniyah, Sultan Orhan Ghazi 1324-1360.

3. Pada samada akhir 1332 atau 1334, Ibnu Battuta tiba di Konstantinople lalu bertemu Maharaja empayar Byzantine, Andronikos III Palaiologos. Dia sempat melawat gereja Hagia Sophia malah duduk sebulan di situ. Sekali lagi, tiada cerita mengenai kerajaan Uthmaniyah. Sebabnya harus sama seperti dinyatakan pada perkara 2.

4. Pada tahun 1354 beliau kembali ke rumah lalu menulis catatan yang membentuk kitab Rihla berdasarkan ingatan dan catatan terdahulu terhadap perjalanannya selama 29 tahun. Selepas itu tidak banyak diketahui tentang beliau kecuali pernah dilantik menjadi hakim di Maghribi dan meninggal dunia pada tahun 1368 atau 1369.

Berdasarkan fakta-fakta ini nampaknya beliau tidak sempat melihat kerajaan Uthmaniyah meluaskan kuasa sehingga melingkungi Konstantinople lalu boleh diambil perhatian tinggi oleh seluruh umat Islam. Sedangkan dalam kitab Rihla tercatat bagaimana beliau boleh menjadi duta kepada Sultan Delhi, Muhammad bin Tughluq dan antara kerajaan yang sempat beliau lawati atas kapasiti sebagai duta itu adalah kerajaan Samudera-Pasai, dalam Aceh sekarang. Ini dikatakan berlaku tahun 1345. Ibnu Batuttah malah mencatatkan Sultan Zainal Abdin yang memerintah Samudera-Pasai ketika itu sebagai satu antara 5 (kalau tak salah ingatan) raja Islam yang paling beliau kagumi kerana memiliki kebolehan tertentu, dalam kes Sultan Zainal Abidin, baginda dinyatakan sangat alim dan merendah diri. Cuma beliau mencatatkan yang dikunjungi itu negeri Jawa sedangkan keadaan yang diceritakan termasuk nama raja diakui pengkaji sebagai merujuk kepada Samudera-Pasai.

Biar diberitahu, pada zaman dahulu Jawa bukan sekadar merujuk pada Pulau Jawa sekarang. Sebaliknya ia boleh merujuk kepada seluruh Alam Melayu/Nusantara/Asia Tenggara kerana Jawa itu merujuk pada bangsa Jawi iaitu bangsa induk Melayu yang melata dan merata di seluruh wilayah ini. Tentang Jawa yang kita ketahui seperti hari ini, pada zaman Ibnu Battuta hidup ia harus merujuk pada kerajaan Majapahit (wujud sekitar 1293-1527). Seingat saya pernah terbaca dalam Rihla bahawa Ibnu Batutta ada menyebut pernah singgah di kerajaan Mul Jawa yang bukan Islam. Samada ini merujuk pada kerajaan Majapahit atau beliau tidak singgah ke Pulau Jawa kerana kurang menarik perhatian.

Mungkin Majapahit juga ketika itu belum cukup terserlah. Pada tahun 1345 ia baru menguasai wilayah-wilayah di sekitar Pulau Jawa dan timurnya seperti di Bali, 2 tahun kemudian baru dapat menancapkan kuasa ke selatan Pulau Sumatera. Samudera Pasai pula baru diserang Majapahit sekitar 1361. Jadi logiklah jika pada ketika Ibnu Batuttah sampai ke Alam Melayu 1345, Majapahit tidak cukup terserlah buat beliau. Yang pasti Samudera-Pasai memang pusat penyebaran Islam di Timur zaman itu malah buat lebih 2 abad. Hal ini menimbulkan semacam persaingan dengan kerajaan Majapahit yang disebut pengkaji sebagai Hindu, satu persaingan yang agak terbawa-bawa sampai sekarang apabila Aceh yang sejak tahun 1524 menyerap Samudera Pasai dimasukkan ke dalam Republik Indonesia 1945 yang berada di bawah kekuasaan orang Jawa di Pulau Jawa.

Berbalik pada dakwaan dalam penulisan  "Wali Songo Utusan Khalifah" yang mana dikatakan wujud kitab bernama Kanzul ‘Hum tulisan Ibn Batuttah kini tersimpan di Muzium Istana Turki di Istanbul... bahawa kitab menyebut Wali Songo dikirim oleh Sultan Muhammad I selepas sultan mengirim surat kepada pembesar Afrika Utara dan Timur Tengah pada 1404 M (808 H) meminta dikirim sejumlah ulama yang memiliki kemampuan dalam berbagai bidang untuk diberangkatkan ke pulau Jawa. Saya sudah tunjukkan bahawa ini adalah mustahil kerana Ibnu Batutta cuma hidup sehingga paling lewat pun 1369 sedangkan Sultan Muhammad pula menaiki takhta Uthmaniyyah 1413. Saya sudah tunjukkan kerajaan Uthmaniyah belum cukup signifikan atau terserlah untuk dimasukkan dalam cerita Rihla apalagi hendak diangkat sebagai pusat kekhalifahan seluruh umat Islam, satu perkara yang sebenarnya cuma berlaku hampir 150 tahun selepas Ibnu Batutta wafat. Jadi kenapa boleh wujud penulisan yang membuat dakwaan Wali Songo dihantar oleh khalifah di Turki? 

Sebagai jawabannya saya mengulangi apa yang sudah terbetik dalam hati ketika pertama kali disuakan tulisan ini 3 tahun lalu. Bahawa ini adalah usaha untuk menafikan peranan Aceh (baca : Samudera-Pasai) dalam pengIslaman Pulau Jawa akibat ego orang Jawa dan persaingan yang sudah wujud sejak zaman Majapahit lagi. Hari ini, selepas melihat tulisan tersebut diangkat kembali di Facebook apabila membuka laptop pagi tadi baru tergerak untuk menyatakan secara rasmi penafian saya disertakan hujah berdasarkan pengetahuan sejarah yang semua orang boleh semak sendiri, insyaallah. Namun pada saya ada betul juga Wali Songo adalah utusan khalifah untuk mengIslamkan Pulau Jawa. Soalnya khalifah yang mana? Untuk itu sila rujuk kembali artikel Kekhalifahan raja-raja Melayu dan dinar emas Melaka yang hilang. Sekian untuk hari Jumaat pertama bulan Ramadhan yang mulia ini... :]


Selasa, Jun 16, 2015

Jejak Kalimantan Barat - Menyahut panggilan Daeng Menambon dan para ulamak Mempawah sebelum berkejar ke Sambas

Salam semua. Selepas membuat artikel Jejak Kalimantan Barat - Sejenak di Pontianak kemudian di Mempawah Rabu lepas saya tidak mendapat kelapangan untuk menyambung cerita. Kalau ada kelapangan masa pun saya terlalu penat untuk membuat cerita apa lagi setiap kali bercerita perlu menyiapkan terlebih dahulu beberapa artikel sokongan. Adapun saya sebenarnya sudah kembali daripada perjalanan Kalimantan Barat itu petang Jumaat, kemudian terus bergegas ke kampung isteri di Tanjung Sepat, Banting untuk majlis keluarga, Semalam baru saya mendapat sedikit kekuatan untuk memulakan proses bercerita. Setelah berjaya menyiapkan 7 artikel sokongan di blogspot BERPETUALANG KE ACEH dan 8 di SENI LAMA MELAYU (MALAY OLDEN ART) baru artikel baru untuk menceritakan hari ke-2 perjalanan ini dapat dimulakan...


OK. Pada penghujung artikel Jejak Kalimantan Barat - Sejenak di Pontianak kemudian di Mempawah ada disebut kami telah menukar rancangan perjalanan. Kalau asalnya kami mahu bermalam di Sambas yang terletak masih jauh lagi ke utara kemudian ke timur, kami kemudian memilih untuk bermalam di Mempawah. Di atas adalah pemandangan daripada luar hotel tempat kami ,enginap. Oh, hari itu adalah Selasa 9 Jun 2015.


Hotel sekitar 5 km ke utara kota Mempawah ini terletak di tepi laut. Ia memiliki jeti menghadap sebuah pulau kecil. Lihat The sea off a resort hotel in Mempawah.


Selepas sarapan kami menghala kembali ke kota Mempawah.


Cuma 1.2 km sahaja dari hotel iaitu menghala ke timur kelihatan pintu gerbang masuk ke makam Opu Daeng Menambon, pengasas kerajaan Islam Mempawah.


Memang pun tujuan utama kami menukar rancangan perjalananan iaitu tidak terus ke Sambas adalah agar dapat menziarahi makam Daeng Menambon pagi Selasa. 


Masuk ke dalam hampir 10 km sampailah di sebuah bukit bernama Sebukit Rama. Ia menghadap satu bahagian Sungai Mempawah yang menghulu 16 km daripada bahagian yang membelah kota Mempawah. Lihat Mempawah river from Sebukit Rama.


Pintu gerbang makam. Makam terletak di atas bukit.


Setelah memanjat lebih 100 anak tangga kalau tak salah sampailah kami ke sana. Lihat Makam (Tomb of) Daeng Menambon.



Tentang Daeng Menambon dan bagaimana beliau atau lebih tepat, baginda dapat bertakhta di Mempawah biarlah dicopy paste maklumat daripada Wikipedia versi Indonesia dengan sedikit suntingan...


-----------------


Opu Daeng Menambun berasal dari Kesultanan Luwu Bugis di Sulawesi Selatan. Ayah Opu Daeng Menambun, bernama Opu Tendriburang Dilaga, yang melakukan perjalanan dari Sulawesi ke negeri-negeri di tanah Melayu. Opu Tendriburang Dilaga adalah putera dari Opu La Maddusilat, Raja Bugis pertama yang memeluk Islam. Opu Tendriburang Dilaga mempunyai lima orang putera yang diajak berkelana ke tanah Melayu. Kelima anak Opu Tendriburang Dilaga itu adalah Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Perani, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Marewah, dan Opu Daeng Kemasi Kedatangan mereka ke tanah Melayu menjadi salah satu babak migrasi orang- orang Bugis yang terjadi pada abad ke-17. Opu Tendriburang Dilaga dan kelima anak lelakinya memainkan peranan penting di Semenanjung Melayu dan Kalimantan, terutama dalam hal penyebaran agama Islam.

Kedatangan Opu Daeng Menambun ke Kalimantan sebenamya atas permintaan Sultan Matan (Tanjungpura), yakni Sultan Muhammad Zainuddin (1665-1724 M), untuk merebut kembali tahta Kesultanan Matan yang diambil-paksa oleh Pangeran Agung, saudara Sultan Muhammad Zainuddin. Opu Daeng Menambun bersaudara, yang saat itu sedang berada di Kesultanan Johor untuk membantu memadamkan pergolakan di sana, segera berangkat ke Tanjungpura. Atas bantuan Opu Daeng Menambun bersaudara, tahta Sultan Muhammad Zainuddin dapat diselamatkan. Opu Daeng Menambun kemudian dinikahkan dengan Ratu Kesumba, puteri Sultan Muhammad Zainuddin. Tidak lama kemudian, Opu Daeng Menambun bersaudara kembali ke Kesultanan Johor.

Sepeninggal Opu Daeng Menambun bersaudara, pergolakan internal terjadi lagi di Kesultanan Matan. Anak-anak Sultan Muhammad Zainuddin meributkan siapa yang berhak mewarisi tahta Kesultanan Matan jika kelak ayah mereka wafat. Sultan Muhammad Zainuddin kembali meminta bantuan Opu Daeng Menambun yang sudah kembali ke Johor. Opu Daeng Menambun memenuhi permintaan Sultan Muhammad Zainuddin dan segera menuju Tanjungpura untuk yang kedua kalinya, sedangkan keempat saudaranya tidak ikut serta karena tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk membantu Kesultanan Johor.

Berkat Opu Daeng Menambun, perselisihan di Kesultanan Matan dapat segera diselesaikan dengan cara damai. Atas jasa Opu Daeng Menambun itu, Sultan Muhammad Zainuddin berkenan menganugerahi Opu Daeng Menambun dengan gelar kehormatan Pangeran Mas Surya Negara. Opu Daeng Menambun sendiri memutuskan untuk menetap di Kesultanan Matan bersama istrinya, dan mereka dikaruniai beberapa orang anak, yang masing-masing bernama "Puteri Candramidi", "Gusti Jamiril", "Syarif Ahmad", "Syarif Abubakar", "Syarif Alwie", dan "Syarif Muhammad".

Pada tahun 1724 M, Sultan Muhammad Zainuddin wafat. Penerus kepemimpinan Kesultanan Matan adalah Gusti Kesuma Bandan yang bergelar Sultan Muhammad Muazzuddin. Sementara itu, di Mempawah, Panembahan Senggaok wafat pada tahun 1737 M. Karena Panembahan Senggaok tidak mempunyai putera, maka tahta Mempawah diberikan kepada Sultan Muhammad Muazzuddin yang tidak lain cucu Panembahan Senggaok dari Puteri Utin Indrawati yang menikah dengan Sultan Muhammad Zainuddin. Namun, setahun kemudian atau pada tahun 1738 M, Sultan Muhammad Muazzuddin pun mangkat dan digantikan puteranya yang bernama Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung bergelar Sultan Muhammad Tajuddin sebagai Sultan Matan yang ke-3.

Pada tahun 1740 M, kekuasaan atas Mempawah, yang semula dirangkap bersama tahta Kesultanan Matan, diserahkan kepada Opu Daeng Menambun yang kemudian memakai gelar Pangeran Mas Surya Negara, gelar yang dahulu diberikan oleh almarhum Sultan Muhammad Zainuddin, Sultan Matan yang pertama. Sedangkan istri Opu Daeng Menambun, Ratu Kesumba, menyandang gelar sebagai Ratu Agung Sinuhun. Pada era Opu Daeng Menambun inilah Islam dijadikan sebagai agama resmi kerajaan. Selaras dengan itu, penyebutan kerajaan pun diganti dengan kesultanan. Opu Daeng Menambun memindahkan pusat pemerintahannya dari Senggaok ke Sebukit Rama yang merupakan daerah subur, makmur, strategis, dan ramai didatangi kaum pedagang.

Pengaruh Islam di Mempawah pada era pemerintahan Opu Daeng Menambun semakin kental berkat peran Sayid Habib Husein Alqadrie, seorang pengelana yang datang dari Hadramaut atau Yaman Selatan. Husein Alqadrie sendiri sebelumnya telah menjabat sebagai hakim utama di Kesultanan Matan pada masa Sultan Muhammad Muazzuddin. Husein Alqadne dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Muazzuddin yang bernama Nyai Tua (Alqadrie, 2005. Di Kesultanan Matan, Husein Alqadrie mengabdi sampai pada pemerintahan sultan ke-4, yakni Sultan Ahmad Kamaluddin, yang menggantikan Sultan Muhammad Tajuddin pada tahun 1749 M. Namun, pada tahun 1755 M, Husein Alqadrie berselisih paham dengan Sultan Ahmad Kamaluddin tentang penerapan hukuman mati.

Melihat kondisi ini, Opu Daeng Menambun kemudian menawari Husein Alqadrie untuk tinggal di Mempawah. Tawaran itu disambut baik oleh Husein Alqadrie yang segera pindah ke Istana Opu Daeng Menambun. Husein Alqadrie kemudian diangkat sebagai patih sekaligus imam besar Mempawah. Selain itu, Husein Alqadrie diizinkan menempati daerah Kuala Mempawah (Galah Herang) untuk dijadikan sebagai pusat pengajaran agama Islam. Untuk semakin mempererat hubungan antara keluarga Husein Alqadrie dan Kesultanan Mempawah, maka diadakan pernikahan antara anak lelaki Husein Alqadrie yang bernama Syarif Abdurrahman Alqadrie dengan anak perempuan Opu Daeng Menambon yang bernama Puteri Candramidi. Kelak, pada tahun 1778 M, Syarif Abdurrahman Alqadrie mendirikan Kesultanan Kadriah di Pontianak.

Pada tahun 1761 M, Opu Daeng Menambon wafat dan dimakamkan di Sebukit Rama. Penerus tahta Kesultanan Mempawah selanjutnya adalah putera Opu Daeng Menambun, yaitu Gusti Jamiril yang bergelar Panembahan Adiwijaya Kusumajaya. Di bawah kepemimpinan Panembahan Adiwijaya, wilayah kekuasaan Mempawah semakin luas dan terkenal sebagai bandar perdagangan yang ramai.


Dalam makam terdapat lambang ayam. Semasa menziarahi istana Mempawah petang Isnin saya diberitahu oleh penjaga rumah, menantu kepada raja terakhir Mempawah bahawa memang Opu Daeng Menambon suka pada ayam. Namun saya lebih tertarik pada 2 ayat yang tertulis di bawahnya. Ayat-ayat ini seperti membayangkan baginda sebenarnya berasal daripada kerajaan Bugis Wajo, bukannya Luwu...


MARADEKA TO WAJOE ADENAMI NAPOPUANG
Hanya negeri yang abadi yang siempunya tanah merdeka semua, hanya adat yang mereka pertuan


Oh. Di sekitar Sebukit Rama ini terdapat beberapa lagi makam. Selain itu terdapat pemandangan menarik dari atas bukit. Lihat :-




Selesai urusan di sekitar makam Daeng Menambon kami ke kawasan istana di kota Mempawah lalu masuk ke kawasan pemakaman diraja.


Masa pertama kali sampai ke kawasan ini iaitu petang Isnin kami tak sempat menjengok pemakaman kerana sampai ke masjid istana pun dah nak Maghrib. Pagi Selasa baru dapat. Kelihatan dalam gambar makam isteri kepada Opu Daeng Menambon. Lihat Makam raja-raja Mempawah (Tombs of rulers of Mempawah).



Sebetulnya tujuan utama kami ke pemakaman adalah untuk menziarahi makam Gusti Jamiril, anakanda Daeng Menambon yang mewarisi kerajaan Mempawah. Cari punya cari tak jumpa-jumpa. Kami pun bertanya kepada beberapa penduduk tempatan yang sedang berehat di kedai hadapan pemakaman. Baru dapat tahu bahawa makam Gusti Jamiril terletak di satu kawasan jauh ke hulu Sungai Mempawah. Dan kami juga dapat tahu berdekatan situ ada makam seorang ulamak besar daripada Patani. Lihat Makam (Tomb of) Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Ah. Yang ini memang kami tak sangka. Ternyata orang ini memang ulamak yang begitu berpengaruh. Biar disajikan cerita berkenaan dripada arkib Utusan Malaysia 10/09/2007... 



Syeikh Ali Faqih al-Fathani Mufti Kerajaan Mempawah

Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

PENYELIDIKAN awal mengenai ulama yang berasal dari Pattani yang akan diriwayatkan ini bermula dari sebuah salasilah dalam simpanan salah seorang keturunannya di Mempawah, Indonesia. Cerita yang terbanyak diperoleh ialah daripada Haji Abdur Razaq, seorang guru agama bebas dan tokoh masyarakat di Mempawah. Selain itu, daripada Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani, Mufti Kerajaan Mempawah terakhir serta daripada beberapa keturunannya yang telah berusia lanjut yang sempat penulis temui di Mempawah, Pontianak, Jakarta dan Pattani.

Tulisan terawal yang disebarkan mengenai Syeikh Ali bin Faqih al-Fatani ialah daripada tulisan penulis sendiri, yang dimuat dalam risalah kecil berjudul, Upu Daeng Menambon Raja Mempawah. Kemudian penulis perkenalkan kembali dalam kertas kerja yang dibentangkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Pattani (anjuran Universiti Kebangsaan Malaysia, 1996) yang berjudul Peranan Orang Pattani Di Dunia Perantauan.

Asal-usul

Dalam lingkungan tahun 1160 H/1747 M, penduduk Kuala Mempawah, Tanjung Mempawah dan kampung-kampung sekitarnya dikejutkan kerana didatangi oleh sekitar 40 perahu yang besar-besar belaka. Setelah dua orang ulama bernama Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani naik ke darat untuk menghadap Upu Daeng Menambon iaitu Raja Mempawah pada masa itu, barulah diketahui oleh penduduk bahawa perahu-perahu besar itu datang dari Kerajaan Fathani Darus Salam. Dipercayai bahawa kedua-dua ulama tersebut berasal dari Kampung Sena, Pattani yang datuk neneknya berasal dari Kerisik, Patani.

Pendidikan dan penyebaran ilmu

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani mendapat pendidikan pondok di Pattani dan kemudian melanjutkan pengajiannya ke Mekah. Bagaimanapun, baik gurunya di Pattani mahupun di Mekah, belum diperoleh catatan yang lengkap dan jelas namun tentang ilmu kedua-duanya dikagumi oleh masyarakat di mana saja mereka berada. Hanya Syeikh Ali al-Fathani dan anak-anak serta anggota/ahli dalam rombongannya yang tetap tinggal di Mempawah dengan mendirikan rumah yang besar di Kampung Tanjung, Mempawah. Sebahagian lagi mengikuti Syeikh Abdul Jalil al-Fathani menyebarkan Islam di Sambas.

Di Sambas, Syeikh Abdul Jalil al-Fathani lebih dikenali dengan sebutan Keramat Lumbang kerana beliau dikeramatkan orang adalah sebagai lambang ketinggian ilmunya hingga kepada ilmu hakikat dan makrifat. Demikian halnya dengan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, setelah beliau meninggal dunia disebut orang dengan Keramat Pokok Sena. Kehebatan ilmu yang berupa karamah yang pernah disaksikan oleh penduduk, di antaranya Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah seorang ulama yang berpengetahuan lengkap. Disebabkan alimnya beliau dapat mengetahui helaian daun kelapa dalam satu pelepah yang jatuh dengan tepat tanpa perlu dihitung terlebih dulu.

Bukan itu sahaja, kalau hari akan hujan beliau dapat mengetahui bahawa akan hujan dengan melihat tanda-tanda kelakuan binatang seperti semut, binatang melata dan serangga lainnya. Memperhatikan ketepatan yang diperkatakan oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, sehingga orang-orang Mempawah pada zaman itu mengatakan bahawa Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani mengetahui percakapan binatang, selain itu beliau adalah seorang Wali Allah juga seperti Habib Husein al-Qadri. Ketentuan-ketentuan hukum keIslaman yang terutama sekali pada persekitaran tiga jurusan, iaitu fiqh menurut Mazhab Syafie, akidah menurut faham Ahli Sunah wal Jamaah Mazhab Abul Hasan al-Asy’ari dan tasawuf mengikut imam-imam sufi yang muktabar adalah terletak pada Habib Husein al-Qadri dan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Sejak kedatangan kedua-dua ulama itu telah mulai berkembang Barzanji, Nazham, Burdah dan yang sejenis dengannya setiap malam Jumaat dan di tempat-tempat yang digunakan sebagai upacara rasmi sering mendengungkan lagu-lagu zikir tersebut untuk memperoleh pahala, bukan dipandang sebagai kesenian atau kebudayaan. Tarekat yang diamal oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani ialah Tarekat Syathariyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan beberapa tarekat yang muktabar lainnya. Namun ia berbeza dengan Habib Husein al-Qadri lebih suka mengamalkan Ratib al-Haddad dan Tarekat Qadiriyah.

Murid-murid

Sebahagian besar tokoh yang pernah belajar dengan Habib Husein al-Qadri juga pernah belajar atau sebagai murid kepada Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Beberapa ilmu yang bercorak khusus, yang diperoleh dalam bentuk sistem pondok lebih banyak diajarkan oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani jika dibandingkan dengan Habib Husein al-Qadri yang lebih menekankan berupa amalan dan bercorak memberi keterangan atau syarahan. Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani lebih menekankan pelajaran yang bercorak hafalan matan-matan sesuatu ilmu menurut tradisi pondok di Pattani, sedangkan Habib Husein al-Qadri perkara itu tidak begitu dikuatkan, yang diutamakan oleh Habib Husein al-Qadri ialah penguasaan lughah Arabiah. Oleh itu, Gusti Jamiril putera Upu Daeng Menambon menguasai ilmu nahu, saraf dan ilmu-ilmu Arabiah yang lainnya adalah diperolehnya daripada Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Faktor yang membolehkannya bertutur dalam bahasa Arab adalah kerana pergaulannya dengan Habib Husein al-Qadri.

Dilantik sebagai mufti

Sebagaimana telah diceritakan dalam artikel sebelum ini bahawa Mufti Kerajaan Mempawah yang pertama ialah Habib Husein al-Qadri yang memperoleh gelar Tuan Besar Mempawah. Diceritakan pula, sewaktu Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah telah berwasiat, bahawa yang layak sebagai pengganti beliau ialah Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani yang tinggal di Kampung Tanjung Mempawah. Oleh itu, untuk melaksanakan wasiat itu pihak pemerintah Mempawah telah melantik Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani sebagai Mufti Kerajaan Mempawah dengan gelar Maharaja Imam Mempawah.

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah orang yang pertama di Mempawah yang memperoleh gelaran sedemikian. Ini bererti Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani itu adalah Mufti Mempawah yang kedua selepas Mufti yang pertama iaitu Habib Husein al-Qadri. Setelah Syarif Abdur Rahman al-Qadri mendirikan Kerajaan Pontianak, Sultan Pontianak itu mengajak beliau pindah ke Pontianak, lalu beliau tinggal di Kampung Bugis/Kampung Pedalaman Pontianak yang berdekatan dengan istana Sultan Pontianak itu. Ini bererti Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani berkhidmat di kedua-dua tempat itu dengan berulang-alik antara Mempawah-Pontianak melalui pelayaran perahu.

Keturunan

Daripada catatan Tuan Guru Haji Abdur Razaq, bahawa keturunan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah empat orang, iaitu:

* Hajah Fathimah

* Abdur Rahman/Wak Tapak

* Ismail

* Muhammad Dumyati

Anak yang pertama, Hajah Fathimah berkahwin dengan Muhammad Thahir, memperoleh anak bernama Maidah dan Basuk. Abdur Rahman, yang lebih dikenal dengan sebutan Wak Tapak memperoleh beberapa orang anak, ialah; Mustafa, Patik, Hasan, Husein dan Muhammad Nur. Seterusnya Ismail, memperoleh anak bernama Saad. Muhammad Dumyati pula memperoleh anak iaitu; Muhammad Shalih, Musa dan Haji Daud. Di antara mereka yang paling terkenal ialah Abdur Rahman/Wak Tapak, adalah seorang pahlawan Mempawah. Sewaktu terjadi perbalahan antara orang-orang Cina dengan Melayu di Mempawah, Mandor dan tempat-tempat lainnya, Wak Tapak al-Fathani dan Tengku Simbob yang berasal dari Riau berhasil mengalahkan orang-orang Cina tersebut.

Salah satu tempat di Pulau Temajoh, Kecamatan Sungai Kunyit, Mempawah nama beliau dikekalkan dengan nama Tanjung Wak Tapak. Menurut riwayat tempat itu adalah sebagai perhentian beliau untuk mengintip lanun-lanun yang melalui perairan Mempawah.

Kesinambungan kedatangan orang-orang dari Semenanjung ke Mempawah/Kalimantan Barat

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani dapat dianggap sebagai perintis kepada kedatangan orang-orang Patani dan tempat-tempat lain dari Semenanjung, seperti Kedah dan Kelantan ke Kalimantan Barat. Dari kedatangan yang pertama oleh Syeikh Ali al-Fathani hingga yang terakhir oleh Haji Abdur Rahman Kelantan, ternyata ada hubungan erat, baik dari segi kekeluargaan mahupun pertalian sanad/salasilah pengajian ilmu-ilmu keIslaman. Kedatangan ke Kalimantan Barat tersebut adalah secara berkesinambungan kecuali terhenti setelah Indonesia merdeka kerana sistem pemerintahan telah jauh berubah coraknya. Tokoh-tokoh yang terkemuka yang berasal dari Pattani yang masih bersangkutan dengan keluarga besar Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani yang datang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat, ada tiga adik-beradik iaitu Haji Wan Abdul Lathif, Wan Nik dan Hajah Wan Mah.

Ada pun Haji Wan Abdul Lathif itu alim dalam ilmu fiqh, manakala Haji Wan Nik adalah tokoh sufi. Haji Wan Abdul Lathif berkahwin di Kampung Tanjung Mempawah dengan salah seorang keturunan yang juga berasal dari Pattani. Beliau memperoleh tiga orang anak: Haji Abdul Hamid, menyebarkan Islam di Kepulauan Tambelan dan meninggal dunia di sana. Anak beliau yang kedua bernama Mahmud, meninggal dunia di Singapura dan yang ketiga bernama Muhammad telah pulang ke Pattani.

Ada pun anak Haji Wan Nik al-Fathani iaitu Haji Usman pulang ke Pattani. Manakala menantu Haji Wan Nik al-Fathani adalah seorang ulama, iaitu Haji Hasan al-Fathani. Beliau adalah sebagai Imam Masjid Jamek Pemangkat (Kabupaten Sambas). Haji Hasan al-Fathani sahabat kepada Syeikh Basiyuni Imran yang lebih dikenali dengan gelaran Maharaja Imam Sambas.

Selanjutnya yang datang dari Kedah pula ialah Syeikh Muhammad Yasin yang membuka pondok pengajian di Kuala Mempawah. Dari Kelantan pula ialah Haji Ismail bin Abdul Majid yang pernah menjadi Mufti Pontianak. Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani pula adalah Mufti Mempawah yang terakhir. Ketiga-tiga orang yang tersebut itu walaupun bukan berasal dari Pattani tetapi ada hubungan dakwah dan pendidikan Islam dengan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Ini kerana sebelum mereka mendapat kedudukan di sana, semuanya tinggal di rumah keturunan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Keturunan yang terakhir ialah penulis sendiri, dari keturunan Pattani-Johor yang dilahirkan di Kepulauan Riau datang ke Kalimantan Barat, menjejakkan kaki pertama sekali di Singkawang (Daerah Sambas) pada 18 Januari 1968 dan selanjutnya ke Mempawah 1970-1988. Penulis sempat mencatat hampir semua peristiwa mulai Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani hingga Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani dari mulut Haji Abdur Rahman Kelantan sendiri. Ini kerana penulis pernah beberapa tahun tinggal di rumah beliau dan sempat beberapa kali menadah kitab daripada ulama Kelantan murid Tok Kenali peringkat terawal itu. Selain itu, semua peristiwa juga dicatat daripada keturunan mereka dan orang tua-tua di Mempawah.

Percubaan-percubaan untuk mendirikan pendidikan sistem pondok sejak zaman Upu Daeng Menambon bersambung terus, namun selalu diakhiri dengan kegagalan. Setelah sekian lama sesudah Upu Daeng Menambon, datang seorang ulama Kedah bernama Haji Muhamad Yasin yang menampung murid-muridnya di Kuala Secapah, namun hanya dapat bertahan beberapa tahun saja. Setelah itu, disambung pula dengan Haji Abdur Rahman bin Husein Kelantan dengan mendirikan pondok Darul Ulum di Mempawah. Dengan terdirinya pondok tersebut, sempat melahirkan beberapa orang tokoh di antaranya, dua orang anak beliau sendiri iaitu Haji Muhaamad Aziq L.C. dan Drs. Abdul Malik.

Seterusnya pondok yang terakhir sekali pula adalah diasaskan daripada penulis dan kawan-kawan yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Fathaanah, yang pertama terdirinya di Sungai Bundung, Kecamatan Sungai Kunyit tahun 1974. Turut serta sebagai pengasas ialah beberapa orang murid daripada Haji Abdur Rahman Kelantan tersebut. Di antara mereka ialah seorang ustaz dan Ketua Kampung Munzir Kitang, Udin Sadul, Hamdan Bochari dan ramai lagi.

Sehingga kini Al-Fathaanah masih wujud dengan berkonsepkan seperti sistem pengajian sekolah-sekolah umum, namun masih mengekalkan sistem pondok. Namun mudah-mudahan ia dapat kekal sampai ke akhir perjuangan.


Satu lagi tujuan utama kami kembali ke persekitaran istana di Kota Mempawah adalah untuk mencari makam ulamak besar yang dikenali sebagai Habib Hussin. Yang ini saya sudah lama tahu sedikit cerita kerana sudah beberapa kali terbaca tentangnya. Artikel di atas telah memperkenalkan beliau sebagai mufti pertama Mempawah. Daripada orang tempatan yang ditemui di hadapan kawasan pemakaman pemakaman kami dapat tahu kedudukan makam cuma sekitar 1 km sahaja perjalanan. Lihat Makam raja-raja Mempawah (Tombs of rulers of Mempawah).


Untuk maklumat lanjut tentang Habib Hussin (juga dieja Husein) biar dikongsikan satu lagi penulisan Ustaz Wan Saghir (sudah almarhum). Penulisan ini saya temui diabadikan dalam sebuah blogspot...



Al-Habib Husein bin Muhammad Al Qadri :Penyebar Islam Kalimantan Barat

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

MENGENAI Habib Husein al-Qadri, tidak terlalu sukar membuat penyelidikan kerana memang terdapat beberapa manuskrip yang khusus membicarakan biografinya. Walau bagaimana pun semua manuskrip yang telah dijumpai tidak jelas nama pengarangnya, yang disebut hanya nama penyalin. Semua manuskrip dalam bentuk tulisan Melayu/Jawi. Nama lengkapnya, As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad al-Qadri, Jamalul Lail, Ba `Alawi, sampai nasabnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Sampai ke atas adalah melalui perkahwinan Saidatina Fatimah dengan Saidina Ali k.w. Nama gelarannya ialah Tuan Besar Mempawah. Lahir di Tarim, Yaman pada tahun 1120 H/1708 M. Wafat di Sebukit Rama Mempawah, 1184 H/ 1771M. ketika berusia 64 tahun. Dalam usia yang masih muda beliau meninggalkan negeri kelahirannya untuk menuntut ilmu pengetahuan bersama beberapa orang sahabatnya.

PENDIDIKAN, PENGEMBARAAN DAN SAHABAT

Mengembara ke negeri Kulaindi dan tinggal di negeri itu selama empat tahun. Di Kulaindi beliau mempelajari kitab kepada seorang ulama besar bernama Sayid Muhammad bin Shahib. Dalam waktu yang sama beliau juga belajar di Kalikut. Jadi sebentar beliau tinggal di Kulaindi dan sebentar tinggal di Kalikut. Habib Husein al-Qadri termasuk dalam empat sahabat. Mereka ialah, Saiyid Abu Bakar al-`Aidrus, menetap di Aceh dan wafat di sana. Digelar sebagai Tuan Besar Aceh. Kedua, Saiyid Umar as-Sagaf, tinggal di Siak dan mengajar Islam di Siak, juga wafat di Siak. Digelar sebagai Tuan Besar Siak. Ketiga, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi yang tinggal di Terengganu dan mengajar Islam di Terengganu. Digelar sebagai Datuk Marang. Keempat, Saiyid Husein bin Ahmad al-Qadri (yang diriwayatkan ini)

Maka Habib Husein pun berangkatlah dari negeri Kulaindi menuju Aceh. Di Aceh beliau tinggal selama satu tahun, menyebar agama Islam dan mengajar kitab. Selanjutnya perjalanan diteruskan ke Siak, Betawi dan Semarang. Saiyid Husein tinggal di Betawi selama tujuh bulan dan di Semarang selama dua tahun. Sewaktu di Semarang beliau mendapat sahabat baru, bernama Syeikh Salim bin Hambal. Pada suatu malam tatkala ia hendak makan, dinantinya Syeikh Salim Hambal itu tiada juga datang. Tiba-tiba ia bertemu Syeikh Salim Hambal di bawah sebuah perahu dalam lumpur. Habib Husein pun berteriak sampai empat kali memanggil Syeikh Salim Hambal. Syeikh Salim Hambal datang menemui Habib Husein berlumuran lumpur. Setelah itu bertanyalah Habib Husein, “Apakah yang kamu perbuat di situ?” Jawabnya: “Hamba sedang membaiki perahu.” Habib Husein bertanya pula, “Mengapa membaikinya malam hari begini?” Maka sahutnya, “Kerana siang hari, air penuh dan pada malam hari air kurang.” Kata Habib Husein lagi, “Jadi beginilah rupanya orang mencari dunia.” Jawabnya, “Ya, beginilah halnya.” Kata Habib Husein pula, “Jika demikian sukarnya orang mencari atau menuntut dunia, aku haramkan pada malam ini juga akan menuntut dunia kerana aku meninggalkan tanah Arab sebab aku hendak mencari yang lebih baik daripada nikmat akhirat.”

Habib Husein kembali ke rumah dengan menangis dan tidak mahu makan. Keesokan harinya wang yang pernah diberi oleh Syeikh Salim Hambal kepadanya semuanya dikembalikannya. Syeikh Salim Hambal berasa hairan, lalu diberinya nasihat supaya Habib Husein suka menerima pemberian dan pertolongan modal daripadanya. Namun Habib Husein tiada juga mahu menerimanya. Oleh sebab Habib Husein masih tetap dengan pendiriannya, yang tidak menghendaki harta dunia, Syeikh Salim Hambal terpaksa mengalah. Syeikh Salim Hambal bersedia mengikuti pelayaran Habib Husein ke negeri Matan.

Setelah di Matan, Habib Husein dan Syeikh Salim Hambal menemui seorang berketurunan saiyid juga, namanya Saiyid Hasyim al-Yahya, digelar orang sebagai Tuan Janggut Merah. Perwatakan Saiyid Hasyim/ Tuan Janggut Merah itu diriwayatkan adalah seorang yang hebat, gagah dan berani. Apabila Saiyid Hasyim berjalan senantiasa bertongkat dan jarang sekali tongkatnya itu ditinggalkannya. Tongkatnya itu terbuat daripada besi dan berat. Sebab Saiyid Hasyim itu memakai tongkat demikian itu kerana ia tidak boleh sekali-kali melihat gambaran berbentuk manusia atau binatang, sama ada di perahu atau di rumah atau pada segala perkakas, sekiranya beliau terpandang atau terlihat apa saja dalam bentuk gambar maka dipalu dan ditumbuknya dengan tongkat besi itu.

KEDUDUKAN DI MATAN

Setelah beberapa lama Habib Husein dan Syeikh Salim Hambal berada di Matan, pada suatu hari Sultan Matan menjemput kedua-duanya dalam satu jamuan makan kerana akan mengambil berkat kealiman Habib Husein itu. Selain kedua-duanya juga dijemput para pangeran, sekalian Menteri negeri Matan, termasuk juga Saiyid Hasyim al-Yahya. Setelah jemputan hadir semuanya, maka dikeluarkanlah tempat sirih adat istiadat kerajaan lalu dibawa ke hadapan Saiyid Hasyim. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat tempat sirih yang di dalamnya terdapat satu kacip besi buatan Bali. Pada kacip itu terdapat ukiran kepala ular. Saiyid Hasyim al-Yahya sangat marah. Diambilnya kacip itu lalu dipatah-patah dan ditumbuk-tumbuknya dengan tongkatnya. Kejadian itu berlaku di hadapan Sultan Matan dan para pembesarnya. Sultan Matan pun muram mukanya, baginda bersama menteri-menterinya hanya tunduk dan terdiam saja. Peristiwa itu mendapat perhatian Habib Husein al-Qadri. Kacip yang berkecai itu diambilnya, dipicit-picit dan diusap-usap dengan air liurnya. Dengan kuasa Allah jua kacip itu pulih seperti sediakala. Setelah dilihat oleh Sultan Matan, sekalian pembesar kerajaan Matan dan Saiyid Hasyim al-Yahya sendiri akan peristiwa itu, sekaliannya gementar, segan, berasa takut kepada Habib Husein al-Qadri yang dikatakan mempunyai karamah itu.

Beberapa hari setelah peristiwa di majlis jamuan makan itu, Sultan Matan serta sekalian pembesarnya mengadakan mesyuarat. Keputusan mesyuarat bahawa Habib Husein dijadikan guru dalam negeri Matan. Sekalian hukum yang tertakluk kepada syariat Nabi Muhammad s.a.w. terpulanglah kepada keputusan Habib Husein al-Qadri. Selain itu Sultan Matan mencarikan isteri untuk Habib Husein. Beliau dikahwinkan dengan Nyai Tua. Daripada perkahwinan itulah mereka memperoleh anak bernama Syarif Abdur Rahman al-Qadri yang kemudian dikenali sebagai Sultan Kerajaan Pontianak yang pertama. Semenjak itu Habib Husein al-Qadri dikasihi, dihormati dan dipelihara oleh Sultan Matan. Setelah sampai kira-kira dalam dua hingga tiga tahun diam di negeri Matan, datanglah suruhan Raja Mempawah dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu akan menjemput Habib Husein untuk dibawa pindah ke Mempawah. Tetapi pada ketika itu Habib Husein masih suka tinggal di negeri Matan. Beliau belum bersedia pindah ke Mempawah. Kembalilah suruhan itu ke Mempawah. Yang menjadi Raja Mempawah ketika itu ialah Upu Daeng Menambon, digelar orang dengan Pangeran Tua. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Sebukit Rama.

HABIB HUSEIN PINDAH KE MEMPAWAH

Negeri Matan dikunjungi pelaut-pelaut yang datang dari jauh dan dekat. Di antara ahli-ahli pelayaran, pelaut-pelaut yang ulung, yang datang dari negeri Bugis-Makasar ramai pula yang datang dari negeri-negeri lainnya. Salah seorang yang berasal dari Siantan, Nakhoda Muda Ahmad kerap berulang alik ke Matan. Terjadi fitnah bahawa dia dituduh melakukan perbuatan maksiat, yang kurang patut, dengan seorang perempuan. Sultan Matan sangat murka, baginda hendak membunuh Nakhoda Muda Ahmad itu. Persoalan itu diserahkan kepada Habib Husein untuk memutuskan hukumannya. Diputuskan oleh Habib Husein dengan hukum syariah bahawa Nakhoda Muda Ahmad lepas daripada hukuman bunuh. Hukuman yang dikenakan kepadanya hanyalah disuruh oleh Habib Husein bertaubat meminta ampun kepada Allah serta membawa sedikit wang denda supaya diserahkan kepada Sultan Matan. Sultan Matan menerima keputusan Habib Husein. Nakhoda Muda Ahmad pun berangkat serta disuruh hantar oleh Sultan Matan dengan dua buah sampan yang berisi segala perbekalan makanan. Setelah sampai di Kuala, Nakhoda Muda Ahmad diamuk oleh orang yang menghantar kerana diperintah oleh Sultan Matan. Nakhoda Muda Ahmad dibunuh secara zalim di Muara Kayang. Peristiwa itu akhirnya diketahui juga oleh Habib Husein al-Qadri. Kerana peristiwa itulah Habib Husein al-Qadri mengirim surat kepada Upu Daeng Menambon di Mempawah yang menyatakan bahawa beliau bersedia pindah ke Mempawah.

Tarikh Habib Husein al-Qadri pindah dari Matan ke Mempawah, tinggal di Kampung Galah Hirang ialah pada 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M. Setelah Habib Husein al-Qadri tinggal di tempat itu ramailah orang datang dari pelbagai penjuru, termasuk dari Sintang dan Sanggau, yang menggunakan perahu dinamakan `bandung’ menurut istilah khas bahasa Kalimantan Barat. Selain kepentingan perniagaan mereka menyempatkan diri mengambil berkat daripada Habib Husein al-Qadri, seorang ulama besar, Wali Allah yang banyak karamah. Beliau disegani kerana selain seorang ulama besar beliau adalah keturunan Nabi Muhammad s.a.w. Dalam tempoh yang singkat negeri tempat Habib Husein itu menjadi satu negeri yang berkembang pesat sehingga lebih ramai dari pusat kerajaan Mempawah, tempat tinggal Upu Daeng Menambon/Pangeran Tua di Sebukit Rama. Manakala Upu Daeng Menambon mangkat puteranya bernama Gusti Jamiril menjadi anak angkat Habib Husein al-Qadri. Dibawanya tinggal bersama di Galah Hirang/Mempawah lalu ditabalkannya sebagai pengganti orang tuanya dalam tahun 1166 H/1752 M. Setelah ditabalkan digelar dengan Penembahan Adiwijaya Kesuma.

Akan kemasyhuran nama Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah itu tersebar luas hingga hampir semua tempat di Asia Tenggara. Pada satu ketika Sultan Palembang mengutus Saiyid Alwi bin Muhammad bin Syihab dengan dua buah perahu untuk menjemput Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah datang ke negeri Palembang kerana Sultan Palembang itu ingin sekali hendak bertemu dengan beliau. Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah tidak bersedia pergi ke Palembang dengan alasan beliau sudah tua.

WAFAT

Dalam semua versi manuskrip Hikayat Habib Husein al-Qadri dan sejarah lainnya ada dicatatkan, beliau wafat pada pukul 2.00 petang, 2 Zulhijjah 1184 H/19 Mac 1771 dalam usia 64 tahun. Wasiat lisannya ketika akan wafat bahawa yang layak menjadi Mufti Mempawah ialah ulama yang berasal dari Patani tinggal di Kampung Tanjung Mempawah, bernama Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.


Semasa bertandang ke masjid istana Mempawah petang Isnin ada jemaah memberitahu bahawa di belakang masjid terdapat makam seorang ulamak besar dari Kelantan. Selepas menziarahi makam Habib Hussin kami pun ke sana. Lihat Makam (Tomb of) Sheikh Abdurrahman al-Kalantani. Ternyata ini seorang lagi ulamak besar. Sekali lagi biar dipersembahkan tulisan almarhum Wan Shagir...


Abdul Rahman Al-Kalantani - Mufti terakhir kerajaan Mempawah

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

Ulama-ulama yang dikisahkan dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia sebelum ini, sebahagian besarnya adalah ulama-ulama pendatang ke Malaysia, terutama yang berasal dari Patani. Berlainan dengan ulama yang diceritakan ini, beliau adalah ulama yang berasal dari Kelantan, Malaysia yang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat, Indonesia. Beliau ialah Tuan Guru Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani. Tahun kelahirannya tidak diketahui. Beliau meninggal dunia pada tahun 1391 Hijrah/1971 Masihi dalam usia melebihi 80 tahun. Kuburnya terletak di Kampung Pulau Pedalaman, Mempawah.

Terdapat beberapa ulama yang berasal dari Malaysia dan datang ke Kalimantan Barat sebelum Abdur Rahman, antara mereka ialah Tuan Guru Haji Muhammad Yasin yang berasal dari Kedah. Makamnya terletak di Kuala Secapah, Mempawah. Haji Ismail bin Abdul Majid berasal dari Kelantan dan pernah menjadi Mufti di Kerajaan Pontianak. Beliau meninggal di Kelantan.

Pendidikan

Abdur Rahman adalah murid peringkat awal Tok Kenali. Menurut keterangannya sendiri bahawa beliau sempat menadah kitab sewaktu Tok Kenali mengajar di bawah pohon getah, kerana pada waktu itu beliau belum memiliki bangunan surau atau madrasah. Perkara yang sangat ditekankan dalam pendidikan tersebut ialah ilmu nahu dan sharaf. Abdur Rahman sempat mempelajari kedua-dua ilmu itu daripada Tok Kenali mulai peringkat yang paling asas hingga peringkat tertinggi. Sampai hari tuanya, beliau masih tetap menghafal Matan Alfiah Ibnu Malik yang terdiri daripada 1000 bait dan sangat terkenal. Selain Matan Alfiah, beliau juga menghafal matan-matan lainnya.

Antara murid Tok Kenali yang menjadi ulama besar terkenal dan sama-sama belajar dengan Abdur Rahman, bahkan tinggal sepondok, ialah Syeikh Idris al-Marbawi, penyusun Kamus al-Marbawi, tokoh Maal Hijrah peringkat kebangsaan Malaysia pertama. Selanjutnya setelah memperoleh ilmu yang sangat banyak di pondok pengajian Tok Kenali, Abdur Rahman melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Beliau tinggal di Mekah selama belasan tahun.

Perantauan

Begitu lama Abdur Rahman belajar sambil merantau di Mekah dan sekitarnya, sehingga ketika pulang ke Kelantan beliau tidak begitu mesra tinggal di Kelantan, negerinya sendiri. Menurutnya, pada mulanya beliau akan merantau ke Banjar, kerana di sana sangat terdapat ramai ulama. Perancangan awalnya, dari Banjar beliau akan ke pulau Jawa kerana sewaktu berada di Mekah beliau sempat belajar kepada beberapa orang ulama yang berasal dari Jawa, antaranya, Syeikh Mukhtar bin `Atharid Bogor.

Dari Kelantan Abdur Rahman menuju ke Singapura dan selanjutnya belayar menuju Sambas. Pada zaman itu Sambas juga terkenal dengan ulamanya yang ramai. Di Sambas beliau tinggal di rumah Syeikh Muhammad Basiyuni Imran, Maharaja Imam Sambas yang sangat terkenal. Syeikh Muhammad Basiyuni Imran menyarankan supaya Abdur Rahman tinggal di Kerajaan Sambas dan tidak perlu merantau ke Banjar atau ke Jawa kerana Kerajaan Sambas masih memerlukan para ulama. Atas kehendak Syeikh Muhammad Basiyuni, beliau diberikan seorang isteri di Kampung Semperiuk, Sambas. Sekali gus diberi tugas mengajar di daerah tersebut dan beberapa daerah yang berdekatan dengannya.

Mufti dan guru penembahan Mempawah

Setelah beberapa tahun Abdur Rahman menetap di Sambas, beliau diminta pula oleh Pangeran Muhammad Taufiq Aqamuddin, Penembahan Mempawah untuk berpindah ke Mempawah bagi mengajar di Istana Mempawah dan sekali gus mengajar di masjid-masjid dan surau-surau dalam pemerintahan Mempawah. Sebelum tawaran itu diterima, terlebih dulu Abdur Rahman mengadakan perundingan dan persetujuan daripada Syeikh Muhammad Basiyuni Imran.

Semua yang dijanjikan oleh Pangeran Muhammad Taufiq Aqamuddin kepada Abdur Rahman dipenuhi. Pangeran Muhammad Taufiq membahagikan dua jalur penyebaran Islam dalam Kerajaan Mempawah, iaitu sebelah utara ditugaskan kepada Abdur Rahman Kelantan dan sebelah selatan kepada Tuan Guru Haji Abdul Qadir bin Ahmad yang berasal dari Banjar. Kedua-dua ulama tersebutlah yang paling terkenal dalam Kerajaan Mempawah sebelum perang dunia kedua.

Selain sebagai Mufti, mengajar kerabat istana, mengajar di masjid-masjid dan surau-surau, Abdur Rahman juga mendirikan pondok pengajian menurut sistem pondok Patani dan Kelantan yang diberi nama Darul `Ulum.

Catatan peribadi

Pertama kali sampai di Mempawah pada tahun 1969, penulis tinggal di rumah Tuan Guru Haji Abdur Rahman Kelantan. Di sini penulis sempat bergaul dan belajar kepada beliau, maka dirasakan perlu merakamkan beberapa catatan penting mengenai beliau.Sewaktu perang dunia kedua, ramai pemimpin dan ulama di Kalimantan Barat dibunuh oleh Jepun tetapi Abdur Rahman terlepas daripada tangkapan Jepun.

Menurut ceritanya bahawa pada suatu hari sesudah sembahyang Subuh, tiba-tiba ada seorang yang tidak dikenali datang ke rumahnya. Orang itu menyuruh beliau segera meninggalkan rumah. Abdur Rahman segera mengikut arahan tersebut. Beliau kemudiannya pergi ke Sungai Bundung, kira-kira 30 km dari Mempawah, iaitu sebuah kampung yang ramai muridnya. Tidak lama kemudian tentera Jepun sampai ke rumahnya tetapi Abdur Rahman tidak berada di rumah. Oleh kerana itu, tentera Jepun langsung menuju Istana Mempawah dan menangkap Penembahan Pangeran Muhammad Taufiq Aqamuddin dan pembesar-pembesar lainnya.

Sekiranya beliau berada di rumah, sesudah Maghrib biasanya beliau mengamalkan wirid hingga masuk waktu Isyak. Sesudah makan malam beliau akan berjalan mundar-mandir sekurang-kurangnya seratus langkah. Menurutnya amalan sedemikian untuk penghadaman makanan yang tujuannya menjadikan badan sentiasa segar dan sihat. Sambil melakukan riadah tersebut, kedengaran beliau membaca surah-surah al-Waqi`ah, al-Mulk dan lain-lainnya secara hafalan.

Beliau akan berhenti mengajar kira-kira pukul 11.00 malam. Pukul 3.00 pagi akan terdengar suaranya mengucapkan zikir dan surah al-Ikhlas sehingga kedengaran azan Subuh. Peristiwa ini diketahui penulis kerana penulis tidur di bilik yang disediakannya, iaitu bersebelahan dengan bilik tempat beliau tidur dan beramal.

Jika beliau berada di kediaman muridnya, mengajar di kampung yang berjauhan dari rumahnya, beberapa amalan di atas tetap dikerjakan, ditambah lagi mengajar hingga pikul 12.00 malam. Sesudah mengajar beliau terus mengerjakan beberapa jenis sembahyang sunat dan berwirid kira-kira satu jam lamanya. Sekitar pukul 1.00 pagi barulah beliau merebahkan badannya di atas tempat tidur. Kira-kira pukul 3.00 pagi, beliau bangun lagi untuk berwirid selama satu jam.

Lebih kurang satu jam sebelum Subuh beliau mandi. Biasanya, air mandinya disediakan oleh murid-muridnya. Cara mandinya juga mempunyai cara tersendiri, Setiap gayung air yang disiramnya, diiringi dengan bacaan doa. Siraman air sekurang-kurangnya 40 gayung.

Selain hal-hal yang tersebut, biasanya murid-muridnya menyediakan kopi yang asli, telur ayam kampung dan madu asli. Semuanya beliau adun dalam air panas. Menurut beliau, amalan tersebut diamalkannya sejak muda lagi dan khasiatnya supaya badan tidak lemah.

Menurut keterangan anaknya Drs. Haji Abdul Malik, sepanjang pergaulannya dengan beberapa orang ulama di Banjar, Kalimantan Selatan, beliau tidak berjumpa cara-cara melakukan amalan-amalan dengan rutin atau istiqamah seperti yang dikerjakan oleh orang tuanya itu, bahkan tidaklah berlebihan jika dikatakan bahawa bidang penguasaan ilmu Islamnya juga sangat sukar untuk dicari gantinya.

Segala yang penulis sebutkan di atas mungkin ada benarnya, kerana umur beliau ketika itu telah mencecah lebih 70 tahun. Penulis pernah mengikutnya berjalan kaki sejauh 8 km ke tempatnya mengajar. Beliau berjalan dengan laju tanpa berhenti walaupun sekejap.

Karya dan keturunan

Karya yang sempat dihasilkannya hanya sebuah, iaitu Qawaninul Mubtadi fil Fiqh yang diselesaikan pada 22 Zulhijjah 1353 Hijrah/27 April 1935 Masihi. Kandungannya membicarakan tentang fikah dalam bentuk soal jawab. Ia dicetak oleh Mathba'ah al-Masawi, 14 Ulu Palembang.

Abdur Rahman Kelantan berkahwin dua kali. Perkahwinan pertamanya di Kampung Semperiuk, Sambas, memperoleh seorang anak bernama Haji Aziqqi. Beliau memperoleh pendidikan Universiti Al-Azhar, Mesir dan selanjutnya menjadi pensyarah di sebuah universiti di Banjar. Haji Aziqqi meninggal dunia di Banjar. Semua anaknya berada di Banjar, Kalimantan Selatan. Perkahwinan kedua di Mempawah, memperoleh dua orang anak lelaki dan tiga perempuan. Antara anak-anaknya dengan isteri di Mempawah ialah Drs. Abdul Malik yang telah meninggal dunia. Jawatan yang pernah disandangnya ketika hidupnya ialah Kepala Kantor Urusan Wilayah Propinsi Kalimantan Barat di Pontianak. Anak perempuan Abdur Rahman yang bernama Mahfuzah berkahwin dengan Ustaz Hasan Basri, yang aktif memimpin Thariqat Naqsyabandiyah Muzhhariyah.

Antara murid-murid Abdur Rahman yang masih aktif hingga sekarang ialah Ustaz Haji Zainal Arifin bin Ahmad, Ketua Majelis Ulama Daerah Tingkat II Kabupaten Pontianak di Mempawah. Murid beliau pula ialah Drs. Haji Bujang Rasni, Kepala Pondok Pesantren Usuluddin di Singkawang.




Dalam kepuk makam mufti terakhir Mempawah ini kelihatan 5 biji telur, nampaknya telur ayam. Terus teringat lambang ayam di makam Opu Daeng Menambon juga dalam istana Mempawah. Teringat juga 5 Opu Daeng Bersaudara yang mana Daeng Menambon adalah salah seorang daripadanya.


Tentang tulisan pada lambang ayam di makam yang seperti menyatakan Daeng Menambon berasal daripada kerajaan Wajo suka saya berkongsi sedikit pemerhatian tentang beberapa bangunan yang dilihat di Mempawah. Oh. Sebelum berhenti mengambil gambar ini kami ada singgah di masjid besar. Lihat Masjid Agung (Great mosque of) al Falah, Mempawah.


Bentuk seperti awan larat menonjol ke atas pada hujung bumbung kelihatan serupa seperti apa yang terdapar dalam lingkungan kawasan kerajaan di Wajo, satu bentuk yang tidak saya ditemui di luar daripada itu. Lihat artikel lama Terhencot-hencot ke Tanah Bugis - Akhirnya, sampai ke Wajo, kerajaan leluhurku belah Bugis.


Perjalanan diteruskan menghala utara ke Singkawan sekitar 2 jam setengah perjalanan daripada Mempawah. Di beberapa bahagian jalan mendekati laut.


Sekitar 15 km sebelum Singkawang kami singgah di satu kawasan rekreasi yang memiliki taman permainan tepi pantai, tempat peninjauan atas bukit dan zoo yang membolehkan orang membawa masuk kenderaan sendiri. Letaknya berdekatan hujung paling barat di seluruh Kalimantan malah seluruh pulau besar Borneo. Lihat :-







Di Singkawang baru kami makan tengah hari di sebuah kedai milik orang Islam walaupun lewat iaitu selepas jam 3 petang. Kami diberitahu ia adalah kota yang memiliki paling ramai penduduk berketurunan Cina. Lihat Passing through Singkawang.


Kami meninggalkan Singkawang hampir jam 4 petang. Masih ada lebih 2 jam lagi perjalanan sebelum dapat sampai ke destinasi rehat kami hari itu iaitu di Sambas. Gambar di atas diambil jam 5.25 ketika lalu di kota Pemangkat 45 km daripada kota Sambas. Maghrib masuk sekitar jam 6 waktu tempatan lalu kami menunaikan solat jamak Zohor dan Asar di pekan Tebas 20 km selepas itu. Lihat Masjid (Mosque of) Addarul Fuad, Tebas.


Kami sampai di Sambas ketika hari sudah gelap. Terus singgah ke masjid istana sana untuk menjamakkan solat Maghrib dan Asar. Dengan ini kami telah sampai ke bahagian paling jauh dalam rancangan perjalanan kami sepanjang berada di Kalimantan Barat. Esoknya bolehlah melawat tempat-tempat bersejarah di sekitar ini sebelum mengorak langkah kembali ke arah Pontianak...