Selasa, Jun 16, 2015

Jejak Kalimantan Barat - Menyahut panggilan Daeng Menambon dan para ulamak Mempawah sebelum berkejar ke Sambas

Salam semua. Selepas membuat artikel Jejak Kalimantan Barat - Sejenak di Pontianak kemudian di Mempawah Rabu lepas saya tidak mendapat kelapangan untuk menyambung cerita. Kalau ada kelapangan masa pun saya terlalu penat untuk membuat cerita apa lagi setiap kali bercerita perlu menyiapkan terlebih dahulu beberapa artikel sokongan. Adapun saya sebenarnya sudah kembali daripada perjalanan Kalimantan Barat itu petang Jumaat, kemudian terus bergegas ke kampung isteri di Tanjung Sepat, Banting untuk majlis keluarga, Semalam baru saya mendapat sedikit kekuatan untuk memulakan proses bercerita. Setelah berjaya menyiapkan 7 artikel sokongan di blogspot BERPETUALANG KE ACEH dan 8 di SENI LAMA MELAYU (MALAY OLDEN ART) baru artikel baru untuk menceritakan hari ke-2 perjalanan ini dapat dimulakan...


OK. Pada penghujung artikel Jejak Kalimantan Barat - Sejenak di Pontianak kemudian di Mempawah ada disebut kami telah menukar rancangan perjalanan. Kalau asalnya kami mahu bermalam di Sambas yang terletak masih jauh lagi ke utara kemudian ke timur, kami kemudian memilih untuk bermalam di Mempawah. Di atas adalah pemandangan daripada luar hotel tempat kami ,enginap. Oh, hari itu adalah Selasa 9 Jun 2015.


Hotel sekitar 5 km ke utara kota Mempawah ini terletak di tepi laut. Ia memiliki jeti menghadap sebuah pulau kecil. Lihat The sea off a resort hotel in Mempawah.


Selepas sarapan kami menghala kembali ke kota Mempawah.


Cuma 1.2 km sahaja dari hotel iaitu menghala ke timur kelihatan pintu gerbang masuk ke makam Opu Daeng Menambon, pengasas kerajaan Islam Mempawah.


Memang pun tujuan utama kami menukar rancangan perjalananan iaitu tidak terus ke Sambas adalah agar dapat menziarahi makam Daeng Menambon pagi Selasa. 


Masuk ke dalam hampir 10 km sampailah di sebuah bukit bernama Sebukit Rama. Ia menghadap satu bahagian Sungai Mempawah yang menghulu 16 km daripada bahagian yang membelah kota Mempawah. Lihat Mempawah river from Sebukit Rama.


Pintu gerbang makam. Makam terletak di atas bukit.


Setelah memanjat lebih 100 anak tangga kalau tak salah sampailah kami ke sana. Lihat Makam (Tomb of) Daeng Menambon.



Tentang Daeng Menambon dan bagaimana beliau atau lebih tepat, baginda dapat bertakhta di Mempawah biarlah dicopy paste maklumat daripada Wikipedia versi Indonesia dengan sedikit suntingan...


-----------------


Opu Daeng Menambun berasal dari Kesultanan Luwu Bugis di Sulawesi Selatan. Ayah Opu Daeng Menambun, bernama Opu Tendriburang Dilaga, yang melakukan perjalanan dari Sulawesi ke negeri-negeri di tanah Melayu. Opu Tendriburang Dilaga adalah putera dari Opu La Maddusilat, Raja Bugis pertama yang memeluk Islam. Opu Tendriburang Dilaga mempunyai lima orang putera yang diajak berkelana ke tanah Melayu. Kelima anak Opu Tendriburang Dilaga itu adalah Opu Daeng Menambun, Opu Daeng Perani, Opu Daeng Celak, Opu Daeng Marewah, dan Opu Daeng Kemasi Kedatangan mereka ke tanah Melayu menjadi salah satu babak migrasi orang- orang Bugis yang terjadi pada abad ke-17. Opu Tendriburang Dilaga dan kelima anak lelakinya memainkan peranan penting di Semenanjung Melayu dan Kalimantan, terutama dalam hal penyebaran agama Islam.

Kedatangan Opu Daeng Menambun ke Kalimantan sebenamya atas permintaan Sultan Matan (Tanjungpura), yakni Sultan Muhammad Zainuddin (1665-1724 M), untuk merebut kembali tahta Kesultanan Matan yang diambil-paksa oleh Pangeran Agung, saudara Sultan Muhammad Zainuddin. Opu Daeng Menambun bersaudara, yang saat itu sedang berada di Kesultanan Johor untuk membantu memadamkan pergolakan di sana, segera berangkat ke Tanjungpura. Atas bantuan Opu Daeng Menambun bersaudara, tahta Sultan Muhammad Zainuddin dapat diselamatkan. Opu Daeng Menambun kemudian dinikahkan dengan Ratu Kesumba, puteri Sultan Muhammad Zainuddin. Tidak lama kemudian, Opu Daeng Menambun bersaudara kembali ke Kesultanan Johor.

Sepeninggal Opu Daeng Menambun bersaudara, pergolakan internal terjadi lagi di Kesultanan Matan. Anak-anak Sultan Muhammad Zainuddin meributkan siapa yang berhak mewarisi tahta Kesultanan Matan jika kelak ayah mereka wafat. Sultan Muhammad Zainuddin kembali meminta bantuan Opu Daeng Menambun yang sudah kembali ke Johor. Opu Daeng Menambun memenuhi permintaan Sultan Muhammad Zainuddin dan segera menuju Tanjungpura untuk yang kedua kalinya, sedangkan keempat saudaranya tidak ikut serta karena tenaga mereka sangat dibutuhkan untuk membantu Kesultanan Johor.

Berkat Opu Daeng Menambun, perselisihan di Kesultanan Matan dapat segera diselesaikan dengan cara damai. Atas jasa Opu Daeng Menambun itu, Sultan Muhammad Zainuddin berkenan menganugerahi Opu Daeng Menambun dengan gelar kehormatan Pangeran Mas Surya Negara. Opu Daeng Menambun sendiri memutuskan untuk menetap di Kesultanan Matan bersama istrinya, dan mereka dikaruniai beberapa orang anak, yang masing-masing bernama "Puteri Candramidi", "Gusti Jamiril", "Syarif Ahmad", "Syarif Abubakar", "Syarif Alwie", dan "Syarif Muhammad".

Pada tahun 1724 M, Sultan Muhammad Zainuddin wafat. Penerus kepemimpinan Kesultanan Matan adalah Gusti Kesuma Bandan yang bergelar Sultan Muhammad Muazzuddin. Sementara itu, di Mempawah, Panembahan Senggaok wafat pada tahun 1737 M. Karena Panembahan Senggaok tidak mempunyai putera, maka tahta Mempawah diberikan kepada Sultan Muhammad Muazzuddin yang tidak lain cucu Panembahan Senggaok dari Puteri Utin Indrawati yang menikah dengan Sultan Muhammad Zainuddin. Namun, setahun kemudian atau pada tahun 1738 M, Sultan Muhammad Muazzuddin pun mangkat dan digantikan puteranya yang bernama Gusti Bendung atau Pangeran Ratu Agung bergelar Sultan Muhammad Tajuddin sebagai Sultan Matan yang ke-3.

Pada tahun 1740 M, kekuasaan atas Mempawah, yang semula dirangkap bersama tahta Kesultanan Matan, diserahkan kepada Opu Daeng Menambun yang kemudian memakai gelar Pangeran Mas Surya Negara, gelar yang dahulu diberikan oleh almarhum Sultan Muhammad Zainuddin, Sultan Matan yang pertama. Sedangkan istri Opu Daeng Menambun, Ratu Kesumba, menyandang gelar sebagai Ratu Agung Sinuhun. Pada era Opu Daeng Menambun inilah Islam dijadikan sebagai agama resmi kerajaan. Selaras dengan itu, penyebutan kerajaan pun diganti dengan kesultanan. Opu Daeng Menambun memindahkan pusat pemerintahannya dari Senggaok ke Sebukit Rama yang merupakan daerah subur, makmur, strategis, dan ramai didatangi kaum pedagang.

Pengaruh Islam di Mempawah pada era pemerintahan Opu Daeng Menambun semakin kental berkat peran Sayid Habib Husein Alqadrie, seorang pengelana yang datang dari Hadramaut atau Yaman Selatan. Husein Alqadrie sendiri sebelumnya telah menjabat sebagai hakim utama di Kesultanan Matan pada masa Sultan Muhammad Muazzuddin. Husein Alqadne dinikahkan dengan puteri Sultan Muhammad Muazzuddin yang bernama Nyai Tua (Alqadrie, 2005. Di Kesultanan Matan, Husein Alqadrie mengabdi sampai pada pemerintahan sultan ke-4, yakni Sultan Ahmad Kamaluddin, yang menggantikan Sultan Muhammad Tajuddin pada tahun 1749 M. Namun, pada tahun 1755 M, Husein Alqadrie berselisih paham dengan Sultan Ahmad Kamaluddin tentang penerapan hukuman mati.

Melihat kondisi ini, Opu Daeng Menambun kemudian menawari Husein Alqadrie untuk tinggal di Mempawah. Tawaran itu disambut baik oleh Husein Alqadrie yang segera pindah ke Istana Opu Daeng Menambun. Husein Alqadrie kemudian diangkat sebagai patih sekaligus imam besar Mempawah. Selain itu, Husein Alqadrie diizinkan menempati daerah Kuala Mempawah (Galah Herang) untuk dijadikan sebagai pusat pengajaran agama Islam. Untuk semakin mempererat hubungan antara keluarga Husein Alqadrie dan Kesultanan Mempawah, maka diadakan pernikahan antara anak lelaki Husein Alqadrie yang bernama Syarif Abdurrahman Alqadrie dengan anak perempuan Opu Daeng Menambon yang bernama Puteri Candramidi. Kelak, pada tahun 1778 M, Syarif Abdurrahman Alqadrie mendirikan Kesultanan Kadriah di Pontianak.

Pada tahun 1761 M, Opu Daeng Menambon wafat dan dimakamkan di Sebukit Rama. Penerus tahta Kesultanan Mempawah selanjutnya adalah putera Opu Daeng Menambun, yaitu Gusti Jamiril yang bergelar Panembahan Adiwijaya Kusumajaya. Di bawah kepemimpinan Panembahan Adiwijaya, wilayah kekuasaan Mempawah semakin luas dan terkenal sebagai bandar perdagangan yang ramai.


Dalam makam terdapat lambang ayam. Semasa menziarahi istana Mempawah petang Isnin saya diberitahu oleh penjaga rumah, menantu kepada raja terakhir Mempawah bahawa memang Opu Daeng Menambon suka pada ayam. Namun saya lebih tertarik pada 2 ayat yang tertulis di bawahnya. Ayat-ayat ini seperti membayangkan baginda sebenarnya berasal daripada kerajaan Bugis Wajo, bukannya Luwu...


MARADEKA TO WAJOE ADENAMI NAPOPUANG
Hanya negeri yang abadi yang siempunya tanah merdeka semua, hanya adat yang mereka pertuan


Oh. Di sekitar Sebukit Rama ini terdapat beberapa lagi makam. Selain itu terdapat pemandangan menarik dari atas bukit. Lihat :-




Selesai urusan di sekitar makam Daeng Menambon kami ke kawasan istana di kota Mempawah lalu masuk ke kawasan pemakaman diraja.


Masa pertama kali sampai ke kawasan ini iaitu petang Isnin kami tak sempat menjengok pemakaman kerana sampai ke masjid istana pun dah nak Maghrib. Pagi Selasa baru dapat. Kelihatan dalam gambar makam isteri kepada Opu Daeng Menambon. Lihat Makam raja-raja Mempawah (Tombs of rulers of Mempawah).



Sebetulnya tujuan utama kami ke pemakaman adalah untuk menziarahi makam Gusti Jamiril, anakanda Daeng Menambon yang mewarisi kerajaan Mempawah. Cari punya cari tak jumpa-jumpa. Kami pun bertanya kepada beberapa penduduk tempatan yang sedang berehat di kedai hadapan pemakaman. Baru dapat tahu bahawa makam Gusti Jamiril terletak di satu kawasan jauh ke hulu Sungai Mempawah. Dan kami juga dapat tahu berdekatan situ ada makam seorang ulamak besar daripada Patani. Lihat Makam (Tomb of) Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Ah. Yang ini memang kami tak sangka. Ternyata orang ini memang ulamak yang begitu berpengaruh. Biar disajikan cerita berkenaan dripada arkib Utusan Malaysia 10/09/2007... 



Syeikh Ali Faqih al-Fathani Mufti Kerajaan Mempawah

Oleh WAN MOHD. SHAGHIR ABDULLAH

PENYELIDIKAN awal mengenai ulama yang berasal dari Pattani yang akan diriwayatkan ini bermula dari sebuah salasilah dalam simpanan salah seorang keturunannya di Mempawah, Indonesia. Cerita yang terbanyak diperoleh ialah daripada Haji Abdur Razaq, seorang guru agama bebas dan tokoh masyarakat di Mempawah. Selain itu, daripada Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani, Mufti Kerajaan Mempawah terakhir serta daripada beberapa keturunannya yang telah berusia lanjut yang sempat penulis temui di Mempawah, Pontianak, Jakarta dan Pattani.

Tulisan terawal yang disebarkan mengenai Syeikh Ali bin Faqih al-Fatani ialah daripada tulisan penulis sendiri, yang dimuat dalam risalah kecil berjudul, Upu Daeng Menambon Raja Mempawah. Kemudian penulis perkenalkan kembali dalam kertas kerja yang dibentangkan dalam Seminar Sejarah dan Kebudayaan Pattani (anjuran Universiti Kebangsaan Malaysia, 1996) yang berjudul Peranan Orang Pattani Di Dunia Perantauan.

Asal-usul

Dalam lingkungan tahun 1160 H/1747 M, penduduk Kuala Mempawah, Tanjung Mempawah dan kampung-kampung sekitarnya dikejutkan kerana didatangi oleh sekitar 40 perahu yang besar-besar belaka. Setelah dua orang ulama bernama Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani naik ke darat untuk menghadap Upu Daeng Menambon iaitu Raja Mempawah pada masa itu, barulah diketahui oleh penduduk bahawa perahu-perahu besar itu datang dari Kerajaan Fathani Darus Salam. Dipercayai bahawa kedua-dua ulama tersebut berasal dari Kampung Sena, Pattani yang datuk neneknya berasal dari Kerisik, Patani.

Pendidikan dan penyebaran ilmu

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani mendapat pendidikan pondok di Pattani dan kemudian melanjutkan pengajiannya ke Mekah. Bagaimanapun, baik gurunya di Pattani mahupun di Mekah, belum diperoleh catatan yang lengkap dan jelas namun tentang ilmu kedua-duanya dikagumi oleh masyarakat di mana saja mereka berada. Hanya Syeikh Ali al-Fathani dan anak-anak serta anggota/ahli dalam rombongannya yang tetap tinggal di Mempawah dengan mendirikan rumah yang besar di Kampung Tanjung, Mempawah. Sebahagian lagi mengikuti Syeikh Abdul Jalil al-Fathani menyebarkan Islam di Sambas.

Di Sambas, Syeikh Abdul Jalil al-Fathani lebih dikenali dengan sebutan Keramat Lumbang kerana beliau dikeramatkan orang adalah sebagai lambang ketinggian ilmunya hingga kepada ilmu hakikat dan makrifat. Demikian halnya dengan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, setelah beliau meninggal dunia disebut orang dengan Keramat Pokok Sena. Kehebatan ilmu yang berupa karamah yang pernah disaksikan oleh penduduk, di antaranya Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah seorang ulama yang berpengetahuan lengkap. Disebabkan alimnya beliau dapat mengetahui helaian daun kelapa dalam satu pelepah yang jatuh dengan tepat tanpa perlu dihitung terlebih dulu.

Bukan itu sahaja, kalau hari akan hujan beliau dapat mengetahui bahawa akan hujan dengan melihat tanda-tanda kelakuan binatang seperti semut, binatang melata dan serangga lainnya. Memperhatikan ketepatan yang diperkatakan oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani, sehingga orang-orang Mempawah pada zaman itu mengatakan bahawa Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani mengetahui percakapan binatang, selain itu beliau adalah seorang Wali Allah juga seperti Habib Husein al-Qadri. Ketentuan-ketentuan hukum keIslaman yang terutama sekali pada persekitaran tiga jurusan, iaitu fiqh menurut Mazhab Syafie, akidah menurut faham Ahli Sunah wal Jamaah Mazhab Abul Hasan al-Asy’ari dan tasawuf mengikut imam-imam sufi yang muktabar adalah terletak pada Habib Husein al-Qadri dan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Sejak kedatangan kedua-dua ulama itu telah mulai berkembang Barzanji, Nazham, Burdah dan yang sejenis dengannya setiap malam Jumaat dan di tempat-tempat yang digunakan sebagai upacara rasmi sering mendengungkan lagu-lagu zikir tersebut untuk memperoleh pahala, bukan dipandang sebagai kesenian atau kebudayaan. Tarekat yang diamal oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani ialah Tarekat Syathariyah, Tarekat Naqsyabandiyah dan beberapa tarekat yang muktabar lainnya. Namun ia berbeza dengan Habib Husein al-Qadri lebih suka mengamalkan Ratib al-Haddad dan Tarekat Qadiriyah.

Murid-murid

Sebahagian besar tokoh yang pernah belajar dengan Habib Husein al-Qadri juga pernah belajar atau sebagai murid kepada Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Beberapa ilmu yang bercorak khusus, yang diperoleh dalam bentuk sistem pondok lebih banyak diajarkan oleh Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani jika dibandingkan dengan Habib Husein al-Qadri yang lebih menekankan berupa amalan dan bercorak memberi keterangan atau syarahan. Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani lebih menekankan pelajaran yang bercorak hafalan matan-matan sesuatu ilmu menurut tradisi pondok di Pattani, sedangkan Habib Husein al-Qadri perkara itu tidak begitu dikuatkan, yang diutamakan oleh Habib Husein al-Qadri ialah penguasaan lughah Arabiah. Oleh itu, Gusti Jamiril putera Upu Daeng Menambon menguasai ilmu nahu, saraf dan ilmu-ilmu Arabiah yang lainnya adalah diperolehnya daripada Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Faktor yang membolehkannya bertutur dalam bahasa Arab adalah kerana pergaulannya dengan Habib Husein al-Qadri.

Dilantik sebagai mufti

Sebagaimana telah diceritakan dalam artikel sebelum ini bahawa Mufti Kerajaan Mempawah yang pertama ialah Habib Husein al-Qadri yang memperoleh gelar Tuan Besar Mempawah. Diceritakan pula, sewaktu Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah telah berwasiat, bahawa yang layak sebagai pengganti beliau ialah Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani yang tinggal di Kampung Tanjung Mempawah. Oleh itu, untuk melaksanakan wasiat itu pihak pemerintah Mempawah telah melantik Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani sebagai Mufti Kerajaan Mempawah dengan gelar Maharaja Imam Mempawah.

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah orang yang pertama di Mempawah yang memperoleh gelaran sedemikian. Ini bererti Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani itu adalah Mufti Mempawah yang kedua selepas Mufti yang pertama iaitu Habib Husein al-Qadri. Setelah Syarif Abdur Rahman al-Qadri mendirikan Kerajaan Pontianak, Sultan Pontianak itu mengajak beliau pindah ke Pontianak, lalu beliau tinggal di Kampung Bugis/Kampung Pedalaman Pontianak yang berdekatan dengan istana Sultan Pontianak itu. Ini bererti Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani berkhidmat di kedua-dua tempat itu dengan berulang-alik antara Mempawah-Pontianak melalui pelayaran perahu.

Keturunan

Daripada catatan Tuan Guru Haji Abdur Razaq, bahawa keturunan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani adalah empat orang, iaitu:

* Hajah Fathimah

* Abdur Rahman/Wak Tapak

* Ismail

* Muhammad Dumyati

Anak yang pertama, Hajah Fathimah berkahwin dengan Muhammad Thahir, memperoleh anak bernama Maidah dan Basuk. Abdur Rahman, yang lebih dikenal dengan sebutan Wak Tapak memperoleh beberapa orang anak, ialah; Mustafa, Patik, Hasan, Husein dan Muhammad Nur. Seterusnya Ismail, memperoleh anak bernama Saad. Muhammad Dumyati pula memperoleh anak iaitu; Muhammad Shalih, Musa dan Haji Daud. Di antara mereka yang paling terkenal ialah Abdur Rahman/Wak Tapak, adalah seorang pahlawan Mempawah. Sewaktu terjadi perbalahan antara orang-orang Cina dengan Melayu di Mempawah, Mandor dan tempat-tempat lainnya, Wak Tapak al-Fathani dan Tengku Simbob yang berasal dari Riau berhasil mengalahkan orang-orang Cina tersebut.

Salah satu tempat di Pulau Temajoh, Kecamatan Sungai Kunyit, Mempawah nama beliau dikekalkan dengan nama Tanjung Wak Tapak. Menurut riwayat tempat itu adalah sebagai perhentian beliau untuk mengintip lanun-lanun yang melalui perairan Mempawah.

Kesinambungan kedatangan orang-orang dari Semenanjung ke Mempawah/Kalimantan Barat

Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani dan Syeikh Abdul Jalil al-Fathani dapat dianggap sebagai perintis kepada kedatangan orang-orang Patani dan tempat-tempat lain dari Semenanjung, seperti Kedah dan Kelantan ke Kalimantan Barat. Dari kedatangan yang pertama oleh Syeikh Ali al-Fathani hingga yang terakhir oleh Haji Abdur Rahman Kelantan, ternyata ada hubungan erat, baik dari segi kekeluargaan mahupun pertalian sanad/salasilah pengajian ilmu-ilmu keIslaman. Kedatangan ke Kalimantan Barat tersebut adalah secara berkesinambungan kecuali terhenti setelah Indonesia merdeka kerana sistem pemerintahan telah jauh berubah coraknya. Tokoh-tokoh yang terkemuka yang berasal dari Pattani yang masih bersangkutan dengan keluarga besar Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani yang datang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat, ada tiga adik-beradik iaitu Haji Wan Abdul Lathif, Wan Nik dan Hajah Wan Mah.

Ada pun Haji Wan Abdul Lathif itu alim dalam ilmu fiqh, manakala Haji Wan Nik adalah tokoh sufi. Haji Wan Abdul Lathif berkahwin di Kampung Tanjung Mempawah dengan salah seorang keturunan yang juga berasal dari Pattani. Beliau memperoleh tiga orang anak: Haji Abdul Hamid, menyebarkan Islam di Kepulauan Tambelan dan meninggal dunia di sana. Anak beliau yang kedua bernama Mahmud, meninggal dunia di Singapura dan yang ketiga bernama Muhammad telah pulang ke Pattani.

Ada pun anak Haji Wan Nik al-Fathani iaitu Haji Usman pulang ke Pattani. Manakala menantu Haji Wan Nik al-Fathani adalah seorang ulama, iaitu Haji Hasan al-Fathani. Beliau adalah sebagai Imam Masjid Jamek Pemangkat (Kabupaten Sambas). Haji Hasan al-Fathani sahabat kepada Syeikh Basiyuni Imran yang lebih dikenali dengan gelaran Maharaja Imam Sambas.

Selanjutnya yang datang dari Kedah pula ialah Syeikh Muhammad Yasin yang membuka pondok pengajian di Kuala Mempawah. Dari Kelantan pula ialah Haji Ismail bin Abdul Majid yang pernah menjadi Mufti Pontianak. Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani pula adalah Mufti Mempawah yang terakhir. Ketiga-tiga orang yang tersebut itu walaupun bukan berasal dari Pattani tetapi ada hubungan dakwah dan pendidikan Islam dengan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani. Ini kerana sebelum mereka mendapat kedudukan di sana, semuanya tinggal di rumah keturunan Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.

Keturunan yang terakhir ialah penulis sendiri, dari keturunan Pattani-Johor yang dilahirkan di Kepulauan Riau datang ke Kalimantan Barat, menjejakkan kaki pertama sekali di Singkawang (Daerah Sambas) pada 18 Januari 1968 dan selanjutnya ke Mempawah 1970-1988. Penulis sempat mencatat hampir semua peristiwa mulai Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani hingga Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani dari mulut Haji Abdur Rahman Kelantan sendiri. Ini kerana penulis pernah beberapa tahun tinggal di rumah beliau dan sempat beberapa kali menadah kitab daripada ulama Kelantan murid Tok Kenali peringkat terawal itu. Selain itu, semua peristiwa juga dicatat daripada keturunan mereka dan orang tua-tua di Mempawah.

Percubaan-percubaan untuk mendirikan pendidikan sistem pondok sejak zaman Upu Daeng Menambon bersambung terus, namun selalu diakhiri dengan kegagalan. Setelah sekian lama sesudah Upu Daeng Menambon, datang seorang ulama Kedah bernama Haji Muhamad Yasin yang menampung murid-muridnya di Kuala Secapah, namun hanya dapat bertahan beberapa tahun saja. Setelah itu, disambung pula dengan Haji Abdur Rahman bin Husein Kelantan dengan mendirikan pondok Darul Ulum di Mempawah. Dengan terdirinya pondok tersebut, sempat melahirkan beberapa orang tokoh di antaranya, dua orang anak beliau sendiri iaitu Haji Muhaamad Aziq L.C. dan Drs. Abdul Malik.

Seterusnya pondok yang terakhir sekali pula adalah diasaskan daripada penulis dan kawan-kawan yang diberi nama Pondok Pesantren Al-Fathaanah, yang pertama terdirinya di Sungai Bundung, Kecamatan Sungai Kunyit tahun 1974. Turut serta sebagai pengasas ialah beberapa orang murid daripada Haji Abdur Rahman Kelantan tersebut. Di antara mereka ialah seorang ustaz dan Ketua Kampung Munzir Kitang, Udin Sadul, Hamdan Bochari dan ramai lagi.

Sehingga kini Al-Fathaanah masih wujud dengan berkonsepkan seperti sistem pengajian sekolah-sekolah umum, namun masih mengekalkan sistem pondok. Namun mudah-mudahan ia dapat kekal sampai ke akhir perjuangan.


Satu lagi tujuan utama kami kembali ke persekitaran istana di Kota Mempawah adalah untuk mencari makam ulamak besar yang dikenali sebagai Habib Hussin. Yang ini saya sudah lama tahu sedikit cerita kerana sudah beberapa kali terbaca tentangnya. Artikel di atas telah memperkenalkan beliau sebagai mufti pertama Mempawah. Daripada orang tempatan yang ditemui di hadapan kawasan pemakaman pemakaman kami dapat tahu kedudukan makam cuma sekitar 1 km sahaja perjalanan. Lihat Makam raja-raja Mempawah (Tombs of rulers of Mempawah).


Untuk maklumat lanjut tentang Habib Hussin (juga dieja Husein) biar dikongsikan satu lagi penulisan Ustaz Wan Saghir (sudah almarhum). Penulisan ini saya temui diabadikan dalam sebuah blogspot...



Al-Habib Husein bin Muhammad Al Qadri :Penyebar Islam Kalimantan Barat

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

MENGENAI Habib Husein al-Qadri, tidak terlalu sukar membuat penyelidikan kerana memang terdapat beberapa manuskrip yang khusus membicarakan biografinya. Walau bagaimana pun semua manuskrip yang telah dijumpai tidak jelas nama pengarangnya, yang disebut hanya nama penyalin. Semua manuskrip dalam bentuk tulisan Melayu/Jawi. Nama lengkapnya, As-Saiyid/as-Syarif Husein bin al-Habib Ahmad/Muhammad bin al-Habib Husein bin al-Habib Muhammad al-Qadri, Jamalul Lail, Ba `Alawi, sampai nasabnya kepada Nabi Muhammad s.a.w. Sampai ke atas adalah melalui perkahwinan Saidatina Fatimah dengan Saidina Ali k.w. Nama gelarannya ialah Tuan Besar Mempawah. Lahir di Tarim, Yaman pada tahun 1120 H/1708 M. Wafat di Sebukit Rama Mempawah, 1184 H/ 1771M. ketika berusia 64 tahun. Dalam usia yang masih muda beliau meninggalkan negeri kelahirannya untuk menuntut ilmu pengetahuan bersama beberapa orang sahabatnya.

PENDIDIKAN, PENGEMBARAAN DAN SAHABAT

Mengembara ke negeri Kulaindi dan tinggal di negeri itu selama empat tahun. Di Kulaindi beliau mempelajari kitab kepada seorang ulama besar bernama Sayid Muhammad bin Shahib. Dalam waktu yang sama beliau juga belajar di Kalikut. Jadi sebentar beliau tinggal di Kulaindi dan sebentar tinggal di Kalikut. Habib Husein al-Qadri termasuk dalam empat sahabat. Mereka ialah, Saiyid Abu Bakar al-`Aidrus, menetap di Aceh dan wafat di sana. Digelar sebagai Tuan Besar Aceh. Kedua, Saiyid Umar as-Sagaf, tinggal di Siak dan mengajar Islam di Siak, juga wafat di Siak. Digelar sebagai Tuan Besar Siak. Ketiga, Saiyid Muhammad bin Ahmad al-Qudsi yang tinggal di Terengganu dan mengajar Islam di Terengganu. Digelar sebagai Datuk Marang. Keempat, Saiyid Husein bin Ahmad al-Qadri (yang diriwayatkan ini)

Maka Habib Husein pun berangkatlah dari negeri Kulaindi menuju Aceh. Di Aceh beliau tinggal selama satu tahun, menyebar agama Islam dan mengajar kitab. Selanjutnya perjalanan diteruskan ke Siak, Betawi dan Semarang. Saiyid Husein tinggal di Betawi selama tujuh bulan dan di Semarang selama dua tahun. Sewaktu di Semarang beliau mendapat sahabat baru, bernama Syeikh Salim bin Hambal. Pada suatu malam tatkala ia hendak makan, dinantinya Syeikh Salim Hambal itu tiada juga datang. Tiba-tiba ia bertemu Syeikh Salim Hambal di bawah sebuah perahu dalam lumpur. Habib Husein pun berteriak sampai empat kali memanggil Syeikh Salim Hambal. Syeikh Salim Hambal datang menemui Habib Husein berlumuran lumpur. Setelah itu bertanyalah Habib Husein, “Apakah yang kamu perbuat di situ?” Jawabnya: “Hamba sedang membaiki perahu.” Habib Husein bertanya pula, “Mengapa membaikinya malam hari begini?” Maka sahutnya, “Kerana siang hari, air penuh dan pada malam hari air kurang.” Kata Habib Husein lagi, “Jadi beginilah rupanya orang mencari dunia.” Jawabnya, “Ya, beginilah halnya.” Kata Habib Husein pula, “Jika demikian sukarnya orang mencari atau menuntut dunia, aku haramkan pada malam ini juga akan menuntut dunia kerana aku meninggalkan tanah Arab sebab aku hendak mencari yang lebih baik daripada nikmat akhirat.”

Habib Husein kembali ke rumah dengan menangis dan tidak mahu makan. Keesokan harinya wang yang pernah diberi oleh Syeikh Salim Hambal kepadanya semuanya dikembalikannya. Syeikh Salim Hambal berasa hairan, lalu diberinya nasihat supaya Habib Husein suka menerima pemberian dan pertolongan modal daripadanya. Namun Habib Husein tiada juga mahu menerimanya. Oleh sebab Habib Husein masih tetap dengan pendiriannya, yang tidak menghendaki harta dunia, Syeikh Salim Hambal terpaksa mengalah. Syeikh Salim Hambal bersedia mengikuti pelayaran Habib Husein ke negeri Matan.

Setelah di Matan, Habib Husein dan Syeikh Salim Hambal menemui seorang berketurunan saiyid juga, namanya Saiyid Hasyim al-Yahya, digelar orang sebagai Tuan Janggut Merah. Perwatakan Saiyid Hasyim/ Tuan Janggut Merah itu diriwayatkan adalah seorang yang hebat, gagah dan berani. Apabila Saiyid Hasyim berjalan senantiasa bertongkat dan jarang sekali tongkatnya itu ditinggalkannya. Tongkatnya itu terbuat daripada besi dan berat. Sebab Saiyid Hasyim itu memakai tongkat demikian itu kerana ia tidak boleh sekali-kali melihat gambaran berbentuk manusia atau binatang, sama ada di perahu atau di rumah atau pada segala perkakas, sekiranya beliau terpandang atau terlihat apa saja dalam bentuk gambar maka dipalu dan ditumbuknya dengan tongkat besi itu.

KEDUDUKAN DI MATAN

Setelah beberapa lama Habib Husein dan Syeikh Salim Hambal berada di Matan, pada suatu hari Sultan Matan menjemput kedua-duanya dalam satu jamuan makan kerana akan mengambil berkat kealiman Habib Husein itu. Selain kedua-duanya juga dijemput para pangeran, sekalian Menteri negeri Matan, termasuk juga Saiyid Hasyim al-Yahya. Setelah jemputan hadir semuanya, maka dikeluarkanlah tempat sirih adat istiadat kerajaan lalu dibawa ke hadapan Saiyid Hasyim. Saiyid Hasyim al-Yahya melihat tempat sirih yang di dalamnya terdapat satu kacip besi buatan Bali. Pada kacip itu terdapat ukiran kepala ular. Saiyid Hasyim al-Yahya sangat marah. Diambilnya kacip itu lalu dipatah-patah dan ditumbuk-tumbuknya dengan tongkatnya. Kejadian itu berlaku di hadapan Sultan Matan dan para pembesarnya. Sultan Matan pun muram mukanya, baginda bersama menteri-menterinya hanya tunduk dan terdiam saja. Peristiwa itu mendapat perhatian Habib Husein al-Qadri. Kacip yang berkecai itu diambilnya, dipicit-picit dan diusap-usap dengan air liurnya. Dengan kuasa Allah jua kacip itu pulih seperti sediakala. Setelah dilihat oleh Sultan Matan, sekalian pembesar kerajaan Matan dan Saiyid Hasyim al-Yahya sendiri akan peristiwa itu, sekaliannya gementar, segan, berasa takut kepada Habib Husein al-Qadri yang dikatakan mempunyai karamah itu.

Beberapa hari setelah peristiwa di majlis jamuan makan itu, Sultan Matan serta sekalian pembesarnya mengadakan mesyuarat. Keputusan mesyuarat bahawa Habib Husein dijadikan guru dalam negeri Matan. Sekalian hukum yang tertakluk kepada syariat Nabi Muhammad s.a.w. terpulanglah kepada keputusan Habib Husein al-Qadri. Selain itu Sultan Matan mencarikan isteri untuk Habib Husein. Beliau dikahwinkan dengan Nyai Tua. Daripada perkahwinan itulah mereka memperoleh anak bernama Syarif Abdur Rahman al-Qadri yang kemudian dikenali sebagai Sultan Kerajaan Pontianak yang pertama. Semenjak itu Habib Husein al-Qadri dikasihi, dihormati dan dipelihara oleh Sultan Matan. Setelah sampai kira-kira dalam dua hingga tiga tahun diam di negeri Matan, datanglah suruhan Raja Mempawah dengan membawa sepucuk surat dan dua buah perahu akan menjemput Habib Husein untuk dibawa pindah ke Mempawah. Tetapi pada ketika itu Habib Husein masih suka tinggal di negeri Matan. Beliau belum bersedia pindah ke Mempawah. Kembalilah suruhan itu ke Mempawah. Yang menjadi Raja Mempawah ketika itu ialah Upu Daeng Menambon, digelar orang dengan Pangeran Tua. Pusat pemerintahannya berkedudukan di Sebukit Rama.

HABIB HUSEIN PINDAH KE MEMPAWAH

Negeri Matan dikunjungi pelaut-pelaut yang datang dari jauh dan dekat. Di antara ahli-ahli pelayaran, pelaut-pelaut yang ulung, yang datang dari negeri Bugis-Makasar ramai pula yang datang dari negeri-negeri lainnya. Salah seorang yang berasal dari Siantan, Nakhoda Muda Ahmad kerap berulang alik ke Matan. Terjadi fitnah bahawa dia dituduh melakukan perbuatan maksiat, yang kurang patut, dengan seorang perempuan. Sultan Matan sangat murka, baginda hendak membunuh Nakhoda Muda Ahmad itu. Persoalan itu diserahkan kepada Habib Husein untuk memutuskan hukumannya. Diputuskan oleh Habib Husein dengan hukum syariah bahawa Nakhoda Muda Ahmad lepas daripada hukuman bunuh. Hukuman yang dikenakan kepadanya hanyalah disuruh oleh Habib Husein bertaubat meminta ampun kepada Allah serta membawa sedikit wang denda supaya diserahkan kepada Sultan Matan. Sultan Matan menerima keputusan Habib Husein. Nakhoda Muda Ahmad pun berangkat serta disuruh hantar oleh Sultan Matan dengan dua buah sampan yang berisi segala perbekalan makanan. Setelah sampai di Kuala, Nakhoda Muda Ahmad diamuk oleh orang yang menghantar kerana diperintah oleh Sultan Matan. Nakhoda Muda Ahmad dibunuh secara zalim di Muara Kayang. Peristiwa itu akhirnya diketahui juga oleh Habib Husein al-Qadri. Kerana peristiwa itulah Habib Husein al-Qadri mengirim surat kepada Upu Daeng Menambon di Mempawah yang menyatakan bahawa beliau bersedia pindah ke Mempawah.

Tarikh Habib Husein al-Qadri pindah dari Matan ke Mempawah, tinggal di Kampung Galah Hirang ialah pada 8 Muharam 1160 H/20 Januari 1747 M. Setelah Habib Husein al-Qadri tinggal di tempat itu ramailah orang datang dari pelbagai penjuru, termasuk dari Sintang dan Sanggau, yang menggunakan perahu dinamakan `bandung’ menurut istilah khas bahasa Kalimantan Barat. Selain kepentingan perniagaan mereka menyempatkan diri mengambil berkat daripada Habib Husein al-Qadri, seorang ulama besar, Wali Allah yang banyak karamah. Beliau disegani kerana selain seorang ulama besar beliau adalah keturunan Nabi Muhammad s.a.w. Dalam tempoh yang singkat negeri tempat Habib Husein itu menjadi satu negeri yang berkembang pesat sehingga lebih ramai dari pusat kerajaan Mempawah, tempat tinggal Upu Daeng Menambon/Pangeran Tua di Sebukit Rama. Manakala Upu Daeng Menambon mangkat puteranya bernama Gusti Jamiril menjadi anak angkat Habib Husein al-Qadri. Dibawanya tinggal bersama di Galah Hirang/Mempawah lalu ditabalkannya sebagai pengganti orang tuanya dalam tahun 1166 H/1752 M. Setelah ditabalkan digelar dengan Penembahan Adiwijaya Kesuma.

Akan kemasyhuran nama Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah itu tersebar luas hingga hampir semua tempat di Asia Tenggara. Pada satu ketika Sultan Palembang mengutus Saiyid Alwi bin Muhammad bin Syihab dengan dua buah perahu untuk menjemput Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah datang ke negeri Palembang kerana Sultan Palembang itu ingin sekali hendak bertemu dengan beliau. Habib Husein al-Qadri/Tuan Besar Mempawah tidak bersedia pergi ke Palembang dengan alasan beliau sudah tua.

WAFAT

Dalam semua versi manuskrip Hikayat Habib Husein al-Qadri dan sejarah lainnya ada dicatatkan, beliau wafat pada pukul 2.00 petang, 2 Zulhijjah 1184 H/19 Mac 1771 dalam usia 64 tahun. Wasiat lisannya ketika akan wafat bahawa yang layak menjadi Mufti Mempawah ialah ulama yang berasal dari Patani tinggal di Kampung Tanjung Mempawah, bernama Syeikh Ali bin Faqih al-Fathani.


Semasa bertandang ke masjid istana Mempawah petang Isnin ada jemaah memberitahu bahawa di belakang masjid terdapat makam seorang ulamak besar dari Kelantan. Selepas menziarahi makam Habib Hussin kami pun ke sana. Lihat Makam (Tomb of) Sheikh Abdurrahman al-Kalantani. Ternyata ini seorang lagi ulamak besar. Sekali lagi biar dipersembahkan tulisan almarhum Wan Shagir...


Abdul Rahman Al-Kalantani - Mufti terakhir kerajaan Mempawah

Oleh Wan Mohd. Shaghir Abdullah

Ulama-ulama yang dikisahkan dalam Ruangan Agama, Utusan Malaysia sebelum ini, sebahagian besarnya adalah ulama-ulama pendatang ke Malaysia, terutama yang berasal dari Patani. Berlainan dengan ulama yang diceritakan ini, beliau adalah ulama yang berasal dari Kelantan, Malaysia yang menyebarkan Islam di Kalimantan Barat, Indonesia. Beliau ialah Tuan Guru Haji Abdur Rahman bin Husein al-Kalantani. Tahun kelahirannya tidak diketahui. Beliau meninggal dunia pada tahun 1391 Hijrah/1971 Masihi dalam usia melebihi 80 tahun. Kuburnya terletak di Kampung Pulau Pedalaman, Mempawah.

Terdapat beberapa ulama yang berasal dari Malaysia dan datang ke Kalimantan Barat sebelum Abdur Rahman, antara mereka ialah Tuan Guru Haji Muhammad Yasin yang berasal dari Kedah. Makamnya terletak di Kuala Secapah, Mempawah. Haji Ismail bin Abdul Majid berasal dari Kelantan dan pernah menjadi Mufti di Kerajaan Pontianak. Beliau meninggal di Kelantan.

Pendidikan

Abdur Rahman adalah murid peringkat awal Tok Kenali. Menurut keterangannya sendiri bahawa beliau sempat menadah kitab sewaktu Tok Kenali mengajar di bawah pohon getah, kerana pada waktu itu beliau belum memiliki bangunan surau atau madrasah. Perkara yang sangat ditekankan dalam pendidikan tersebut ialah ilmu nahu dan sharaf. Abdur Rahman sempat mempelajari kedua-dua ilmu itu daripada Tok Kenali mulai peringkat yang paling asas hingga peringkat tertinggi. Sampai hari tuanya, beliau masih tetap menghafal Matan Alfiah Ibnu Malik yang terdiri daripada 1000 bait dan sangat terkenal. Selain Matan Alfiah, beliau juga menghafal matan-matan lainnya.

Antara murid Tok Kenali yang menjadi ulama besar terkenal dan sama-sama belajar dengan Abdur Rahman, bahkan tinggal sepondok, ialah Syeikh Idris al-Marbawi, penyusun Kamus al-Marbawi, tokoh Maal Hijrah peringkat kebangsaan Malaysia pertama. Selanjutnya setelah memperoleh ilmu yang sangat banyak di pondok pengajian Tok Kenali, Abdur Rahman melanjutkan pelajarannya ke Mekah. Beliau tinggal di Mekah selama belasan tahun.

Perantauan

Begitu lama Abdur Rahman belajar sambil merantau di Mekah dan sekitarnya, sehingga ketika pulang ke Kelantan beliau tidak begitu mesra tinggal di Kelantan, negerinya sendiri. Menurutnya, pada mulanya beliau akan merantau ke Banjar, kerana di sana sangat terdapat ramai ulama. Perancangan awalnya, dari Banjar beliau akan ke pulau Jawa kerana sewaktu berada di Mekah beliau sempat belajar kepada beberapa orang ulama yang berasal dari Jawa, antaranya, Syeikh Mukhtar bin `Atharid Bogor.

Dari Kelantan Abdur Rahman menuju ke Singapura dan selanjutnya belayar menuju Sambas. Pada zaman itu Sambas juga terkenal dengan ulamanya yang ramai. Di Sambas beliau tinggal di rumah Syeikh Muhammad Basiyuni Imran, Maharaja Imam Sambas yang sangat terkenal. Syeikh Muhammad Basiyuni Imran menyarankan supaya Abdur Rahman tinggal di Kerajaan Sambas dan tidak perlu merantau ke Banjar atau ke Jawa kerana Kerajaan Sambas masih memerlukan para ulama. Atas kehendak Syeikh Muhammad Basiyuni, beliau diberikan seorang isteri di Kampung Semperiuk, Sambas. Sekali gus diberi tugas mengajar di daerah tersebut dan beberapa daerah yang berdekatan dengannya.

Mufti dan guru penembahan Mempawah

Setelah beberapa tahun Abdur Rahman menetap di Sambas, beliau diminta pula oleh Pangeran Muhammad Taufiq Aqamuddin, Penembahan Mempawah untuk berpindah ke Mempawah bagi mengajar di Istana Mempawah dan sekali gus mengajar di masjid-masjid dan surau-surau dalam pemerintahan Mempawah. Sebelum tawaran itu diterima, terlebih dulu Abdur Rahman mengadakan perundingan dan persetujuan daripada Syeikh Muhammad Basiyuni Imran.

Semua yang dijanjikan oleh Pangeran Muhammad Taufiq Aqamuddin kepada Abdur Rahman dipenuhi. Pangeran Muhammad Taufiq membahagikan dua jalur penyebaran Islam dalam Kerajaan Mempawah, iaitu sebelah utara ditugaskan kepada Abdur Rahman Kelantan dan sebelah selatan kepada Tuan Guru Haji Abdul Qadir bin Ahmad yang berasal dari Banjar. Kedua-dua ulama tersebutlah yang paling terkenal dalam Kerajaan Mempawah sebelum perang dunia kedua.

Selain sebagai Mufti, mengajar kerabat istana, mengajar di masjid-masjid dan surau-surau, Abdur Rahman juga mendirikan pondok pengajian menurut sistem pondok Patani dan Kelantan yang diberi nama Darul `Ulum.

Catatan peribadi

Pertama kali sampai di Mempawah pada tahun 1969, penulis tinggal di rumah Tuan Guru Haji Abdur Rahman Kelantan. Di sini penulis sempat bergaul dan belajar kepada beliau, maka dirasakan perlu merakamkan beberapa catatan penting mengenai beliau.Sewaktu perang dunia kedua, ramai pemimpin dan ulama di Kalimantan Barat dibunuh oleh Jepun tetapi Abdur Rahman terlepas daripada tangkapan Jepun.

Menurut ceritanya bahawa pada suatu hari sesudah sembahyang Subuh, tiba-tiba ada seorang yang tidak dikenali datang ke rumahnya. Orang itu menyuruh beliau segera meninggalkan rumah. Abdur Rahman segera mengikut arahan tersebut. Beliau kemudiannya pergi ke Sungai Bundung, kira-kira 30 km dari Mempawah, iaitu sebuah kampung yang ramai muridnya. Tidak lama kemudian tentera Jepun sampai ke rumahnya tetapi Abdur Rahman tidak berada di rumah. Oleh kerana itu, tentera Jepun langsung menuju Istana Mempawah dan menangkap Penembahan Pangeran Muhammad Taufiq Aqamuddin dan pembesar-pembesar lainnya.

Sekiranya beliau berada di rumah, sesudah Maghrib biasanya beliau mengamalkan wirid hingga masuk waktu Isyak. Sesudah makan malam beliau akan berjalan mundar-mandir sekurang-kurangnya seratus langkah. Menurutnya amalan sedemikian untuk penghadaman makanan yang tujuannya menjadikan badan sentiasa segar dan sihat. Sambil melakukan riadah tersebut, kedengaran beliau membaca surah-surah al-Waqi`ah, al-Mulk dan lain-lainnya secara hafalan.

Beliau akan berhenti mengajar kira-kira pukul 11.00 malam. Pukul 3.00 pagi akan terdengar suaranya mengucapkan zikir dan surah al-Ikhlas sehingga kedengaran azan Subuh. Peristiwa ini diketahui penulis kerana penulis tidur di bilik yang disediakannya, iaitu bersebelahan dengan bilik tempat beliau tidur dan beramal.

Jika beliau berada di kediaman muridnya, mengajar di kampung yang berjauhan dari rumahnya, beberapa amalan di atas tetap dikerjakan, ditambah lagi mengajar hingga pikul 12.00 malam. Sesudah mengajar beliau terus mengerjakan beberapa jenis sembahyang sunat dan berwirid kira-kira satu jam lamanya. Sekitar pukul 1.00 pagi barulah beliau merebahkan badannya di atas tempat tidur. Kira-kira pukul 3.00 pagi, beliau bangun lagi untuk berwirid selama satu jam.

Lebih kurang satu jam sebelum Subuh beliau mandi. Biasanya, air mandinya disediakan oleh murid-muridnya. Cara mandinya juga mempunyai cara tersendiri, Setiap gayung air yang disiramnya, diiringi dengan bacaan doa. Siraman air sekurang-kurangnya 40 gayung.

Selain hal-hal yang tersebut, biasanya murid-muridnya menyediakan kopi yang asli, telur ayam kampung dan madu asli. Semuanya beliau adun dalam air panas. Menurut beliau, amalan tersebut diamalkannya sejak muda lagi dan khasiatnya supaya badan tidak lemah.

Menurut keterangan anaknya Drs. Haji Abdul Malik, sepanjang pergaulannya dengan beberapa orang ulama di Banjar, Kalimantan Selatan, beliau tidak berjumpa cara-cara melakukan amalan-amalan dengan rutin atau istiqamah seperti yang dikerjakan oleh orang tuanya itu, bahkan tidaklah berlebihan jika dikatakan bahawa bidang penguasaan ilmu Islamnya juga sangat sukar untuk dicari gantinya.

Segala yang penulis sebutkan di atas mungkin ada benarnya, kerana umur beliau ketika itu telah mencecah lebih 70 tahun. Penulis pernah mengikutnya berjalan kaki sejauh 8 km ke tempatnya mengajar. Beliau berjalan dengan laju tanpa berhenti walaupun sekejap.

Karya dan keturunan

Karya yang sempat dihasilkannya hanya sebuah, iaitu Qawaninul Mubtadi fil Fiqh yang diselesaikan pada 22 Zulhijjah 1353 Hijrah/27 April 1935 Masihi. Kandungannya membicarakan tentang fikah dalam bentuk soal jawab. Ia dicetak oleh Mathba'ah al-Masawi, 14 Ulu Palembang.

Abdur Rahman Kelantan berkahwin dua kali. Perkahwinan pertamanya di Kampung Semperiuk, Sambas, memperoleh seorang anak bernama Haji Aziqqi. Beliau memperoleh pendidikan Universiti Al-Azhar, Mesir dan selanjutnya menjadi pensyarah di sebuah universiti di Banjar. Haji Aziqqi meninggal dunia di Banjar. Semua anaknya berada di Banjar, Kalimantan Selatan. Perkahwinan kedua di Mempawah, memperoleh dua orang anak lelaki dan tiga perempuan. Antara anak-anaknya dengan isteri di Mempawah ialah Drs. Abdul Malik yang telah meninggal dunia. Jawatan yang pernah disandangnya ketika hidupnya ialah Kepala Kantor Urusan Wilayah Propinsi Kalimantan Barat di Pontianak. Anak perempuan Abdur Rahman yang bernama Mahfuzah berkahwin dengan Ustaz Hasan Basri, yang aktif memimpin Thariqat Naqsyabandiyah Muzhhariyah.

Antara murid-murid Abdur Rahman yang masih aktif hingga sekarang ialah Ustaz Haji Zainal Arifin bin Ahmad, Ketua Majelis Ulama Daerah Tingkat II Kabupaten Pontianak di Mempawah. Murid beliau pula ialah Drs. Haji Bujang Rasni, Kepala Pondok Pesantren Usuluddin di Singkawang.




Dalam kepuk makam mufti terakhir Mempawah ini kelihatan 5 biji telur, nampaknya telur ayam. Terus teringat lambang ayam di makam Opu Daeng Menambon juga dalam istana Mempawah. Teringat juga 5 Opu Daeng Bersaudara yang mana Daeng Menambon adalah salah seorang daripadanya.


Tentang tulisan pada lambang ayam di makam yang seperti menyatakan Daeng Menambon berasal daripada kerajaan Wajo suka saya berkongsi sedikit pemerhatian tentang beberapa bangunan yang dilihat di Mempawah. Oh. Sebelum berhenti mengambil gambar ini kami ada singgah di masjid besar. Lihat Masjid Agung (Great mosque of) al Falah, Mempawah.


Bentuk seperti awan larat menonjol ke atas pada hujung bumbung kelihatan serupa seperti apa yang terdapar dalam lingkungan kawasan kerajaan di Wajo, satu bentuk yang tidak saya ditemui di luar daripada itu. Lihat artikel lama Terhencot-hencot ke Tanah Bugis - Akhirnya, sampai ke Wajo, kerajaan leluhurku belah Bugis.


Perjalanan diteruskan menghala utara ke Singkawan sekitar 2 jam setengah perjalanan daripada Mempawah. Di beberapa bahagian jalan mendekati laut.


Sekitar 15 km sebelum Singkawang kami singgah di satu kawasan rekreasi yang memiliki taman permainan tepi pantai, tempat peninjauan atas bukit dan zoo yang membolehkan orang membawa masuk kenderaan sendiri. Letaknya berdekatan hujung paling barat di seluruh Kalimantan malah seluruh pulau besar Borneo. Lihat :-







Di Singkawang baru kami makan tengah hari di sebuah kedai milik orang Islam walaupun lewat iaitu selepas jam 3 petang. Kami diberitahu ia adalah kota yang memiliki paling ramai penduduk berketurunan Cina. Lihat Passing through Singkawang.


Kami meninggalkan Singkawang hampir jam 4 petang. Masih ada lebih 2 jam lagi perjalanan sebelum dapat sampai ke destinasi rehat kami hari itu iaitu di Sambas. Gambar di atas diambil jam 5.25 ketika lalu di kota Pemangkat 45 km daripada kota Sambas. Maghrib masuk sekitar jam 6 waktu tempatan lalu kami menunaikan solat jamak Zohor dan Asar di pekan Tebas 20 km selepas itu. Lihat Masjid (Mosque of) Addarul Fuad, Tebas.


Kami sampai di Sambas ketika hari sudah gelap. Terus singgah ke masjid istana sana untuk menjamakkan solat Maghrib dan Asar. Dengan ini kami telah sampai ke bahagian paling jauh dalam rancangan perjalanan kami sepanjang berada di Kalimantan Barat. Esoknya bolehlah melawat tempat-tempat bersejarah di sekitar ini sebelum mengorak langkah kembali ke arah Pontianak...



3 ulasan:

  1. Kerajaan yg terawal dikalimantan kerajaan banjarhindu, nang sarunai selepas itu kerajaan daha selepas itu daha candi amuntai fosilnya jauh lebih tua dari fosil borobudur.hubungan kekerabatan banjar bugis sejak dikerajsan kutai kartanegara selepas itu pasir ,sambas,mempawah dari pasir menuju ketanah melayu perak

    BalasPadam
  2. coba cari tau nama datuk ummat bin datuk ismail dari minang..pasti ketemu sejarah mempawah sebenar ny🙏

    BalasPadam
  3. Ternyata thun 1160 ulamak patani sudah menyebar agama islam ke pulau2 indonesia as salam dari ank melayu patani perak msia

    BalasPadam